Penanggungan Dosa

acut(38)
Published in
#cerpen
Words
472
Reading
3 min
Listen
Play
9y

Kota Gede, pukul 8
Angin terus berhembus, sejuk udara pun terus berganti.

image

“Bang....” sapa seorang anak muda tanggung pada police yang berjaga di polsek Gede ketika minggu sepi. Betul sepi sekali memang, bahkan kucing liwat pun tahu betapa police itu mencerca diri terhadap peruntungannya.

Belum sempat lagi police itu menjawab sapaan, si anak lantas meneruskan:
“Aku hendak berjumpa dengan bapak dalam tahanan bang, boleh aku langsung menuju kedalam untuk berjumpa bang? Ingin aku menyampaikan kabar penting, lagi pula sudah keliwat rindu sekali hati ini pada bapak, aku bang...”

Sontak, bibir si police merekah tersenyum hingga tampak barisan gigi putih nan rapi. Terkesima betul ia ketika mendengar seorang anak berumur enam belas tahun berkata seperti itu. Ia berdiri dan langsung merangkul anak itu masuk tanpa banyak berkata-kata.

Pertemuan
Sembari menunggu sosok yang di tunggu, Di terka-terka oleh si anak seperti apa nasib yang akan mengutuknya nanti. Ia begitu resah, tetapi tak muncul sedikitpun rasa gelisah pada raut wajahnya.
Hingga muncul seorang lelaki berbadan sedikit gemuk dari balik jeruji besi yang memisahkan mereka. Mata lelaki itu merah, tampak seperti ia telah meneteskan tangis darah sebelum bersua.

image

Tanpa mengindahkan sosok yang dulu dikaguminya, dengan geram dan bergetar si anak bertutur tajam:
“Kerana perlakuanmu pak, aku telah kehilangan ibuku tercinta, oh ibu...”

Lelaki itu hanya melangak, tak sanggup ia membendung air mata yang tiba-tiba secara perlahan terus berjatuhan membasahi pipi gempalnya. Police tadi yang mengawasi mereka tampak sangat terkejut.

“Oh ibu, betapa malang nasibmu hingga menanggung dosa pria tak menahu diri ini, bahkan anjing sekalipun akan muntah hingga mati bila mencium bau dosa pria ini...”

“Anak ku, aku melakukan itu semua hanya kerana ibumu dan kau sorang wahai buah hati, sampai hati kau wahai buah hati menghujat aku dengan kata-kata seperti itu?”
Dengan bergelimangan air mata, lelaki itu mencoba berkata walau itu hati begitu pedih mendengar kabar bahwa isteri tercintanya telah menghadap pada Yang Maha Kuasa.

“Jika melihat raut wajahmu, bapak. Hina aku kau sebut buah hati”.
Tak merasa kuat mendengar perkataan buah hatinya, mulailah menggerutu sesal lelaki itu hingga menjambak geram rambutnya sendiri.

“Saban hari rezeki itu akan menghampiri kita, wahai bapak. Bukan dengan cara yang telah kau lakukan itu, menyiksa keluarga orang dengan sangat keji, sampai-sampai mati pula. Mereka memperlakukanmu semena-mena, saya tahu itu. Apa kau melakukan pencitraan saja padaku ketika mengajari aku tentang keagamaan? padahal kau sendiri pun belum tahu betul apa itu gunanya agama. Ya bapak, aku merasa begitu, kerana kau tlah membuat ibuku yang seperti malaikat watak dan hatinya jadi mati konyol di cincang orang...”

Langsung saja anak itu pergi, disisakan sedikit memori tak indah pada bapaknya. Sedangkan lelaki itu, hanya merenung, meratap kosong. Betapa terguncang hatinya mendengar beberapa kata yang ditinggalkan oleh sang anak melayang-layang di atas kepala. Sungguh sangat ia menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan.

“Pukuli saja orang hina itu hingga mampus!” Kata si police pada tahanan lainnya.

Penanggungan Dosa | Ecency