Ibu. Sore kemarin, saat sore masih terang. Telapak kaki kasarku menjamah pasiran pantai yang kian hari semakin dipenuhi dengan kertas warna-warni. Kilapan putih pasir menjadi ternoda. Mengundang ombak laut silih berganti berdatangan. Derai ombak itu mengaum-ngaum lebih keras dari biasanya. Memukul sekeras-kerasnya pada bibiran pantai. Sungguh begitu terasa amarahnya.
Gumpalan awan diatas kepala, secara perlahan ia menghilangkan putih sucinya. Dengan cepat pula membalut diri dalam kegelapan. Kini, Aku ditemani awan yang hitam. Begitu kelam. Sungguh betul sekali awan itu mengerti rasaku. Aku tidak sendiri.
Walaupun kata terucap dalam hati. Aku sadar, aku mengadu pada kegelapan tentang sosok perempuan yang terus melayang-layang dalam pikiran. Sudah sebulan lamanya. Sungguh telat aku mengetahui ada kelopak bunga nan indah begitu rupa. Perempuan suci bertudung. Perempuan yang membalut seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Yang terlihat hanya keindahan wajah putih dengan hidung mancungnya. Serta jemari kepunyaannya yang berjejer nan rapi. Dilengkapi dengan kuku mengkilapnya, sudah pasti halus sekali sentuhan telapak tangan itu. Ketika berpapasan pada jalan setapak kampus. Perempuan itu, tersungging bibirnya melempar senyum padaku. Oh... pikiran
Matahari terus merambat di sela-sela waktu yang terus berjalan. Bumi terus berputar, langkah demi langkah, untuk mencapai sebuah tujuan. Matahari yang lolos dari gumpalan awan hitam. Kini, ia akan mendarat di ufuk timur sana. Matahari itu. Ia sudah disambut oleh sekelompok awan terang di ujung sana. Ia akan pulang. Ia akan disembunyikan dari suasana gelap yang menentang. Ia lari dariku. Ia lari meninggalkan aku. Terasa semakin gelap suasana dan pikiran.
Ibu, tahukah? Merah senja itu melempar segaris kilauan cahaya. Tersenyumkah ia melihat jagoanmu? Aku melamun saja. Terbesit pula dalam ingatan rekah bibirmu bila tersenyum bahagia. Sungguh klise parasmu tak pernah luput dalam ingatan. Terlebih ketika bibirmu terangkat. Lalu tampak barisan gigi putih itu berjejer nan rapi. Surut sudah galau yang menyayat hati. Terima kasih senja.
Sore kemarin, begitu lama. Lama sekali aku terpaku di pinggir pantai sana. Hingga sudah mengeong saja derai ombak dari auman kerasnya. Terjawab sudah, segala apa yang terombang-ambing dalam pikiran itu. Tentu saja, seiring kegelapan awan hitam sepenuhnya terganti oleh gelap malam. Tentu saja, seiring terpancarnya cahaya dari sirna rembulan. Tentu saja, seiring kertas warna warni di pasir pantai, tergantikan oleh gemerlip ribuan bintang. Pantasnya aku mengadu.