Luqman Anandswarup

acut(38)
Published in
#peotry
Words
191
Reading
1 min
Listen
Play
9y


image source
Luqman Anandswarup. Begitulah namanya di berikan sedari lahir. Ia tumbuh besar dari keluarga terpandang. Ibunda selalu berkisah, bahwa Abu adalah seorang ulama tersohor. Takdir berkehendak, kuasa yang satu tak mampu terlawan. Anan tak pernah mengenal sosok Abu-nya, yang dipercaya memberi nasihat pada besarnya suatu titik perkara kuasa.

Baik ia berbuat, alim ia bertutur. Apa kata ibunda, tak satu pun dicela. Bila ibunda menyeru, tak terpatahkan dengan lisan. Mustahil pula ia jauh dari agama. Anan percaya, amalnya cukup hingga akhir hayat menjemput. Ibunda selalu mengajari bekal akhirat padanya, pasti ‘lah ia berpegang teguh. “Bunda percaya, setiap buah jatuh, tak jauh dari pohonnya,” “mengekor di jalur Abu, dalami segalanya.” Tuntutan menghampiri, dilema Anan memikir jalurnya sendiri.

Tanpa pernah ibunda berfikir; ”Walau jatuh tak jauh dari pohon, kerap kali isi buah itu, ada yang busuk.” Kini, tercerminkan pada Anan dengan jelas segala gelisah resah penekanan, bersatu padu dalam rasa antah berantah. Semuanya jelas tertumpah dalam sukma. Batinnya terluka. Ruh-nya terbang entah kemana. Ia gila.


Gumpalan awan tak kuasa membendung berat rasa
Air hujan akan tertumpah dengan tajam ke atas tanah
Sekalipun rahmat, tetap basah hingga sakit dalam kepala
Jua membawa malapetaka

(Renungan)

Luqman Anandswarup | Ecency