Antara Hidup, atau Mati Saja

acut(38)
Published in
#aceh
Words
479
Reading
3 min
Listen
Play
9y

“Ingat! Kalau dapat pukuli hingga mampus. Kalau lari tembak hingga mati!”

“Bagaimana dengan pergerakan perempuannya komandan?”

“Bacot! Sama saja. Blo’on...”


Bagi-bagi celaka
Kampung itu menjadi sengap dari riuhnya. Ada yang pura-pura tidur, yang pura-pura bisu, hingga yang pura-pura gila pun ada. Takut mereka ketika para militer datang menggendong senapan AK-nya dengan gagah. Bukan tanpa sebab pula militer itu datang. Tak lain karena telah mendapat kabar dari seorang cuak, bahwa ada sekelompok pemberontak yang turun dari rimba menuju kampung tersebut.

image

Tak peduli tua, muda, anak kecil, laki dan wanita, hingga binatang pun semuanya dikumpulkan. Sedangkan anggota militer lainnya mengecek sekitaran, barangkali pemberontak itu lari tak jauh-jauh dari situ. Sebagian lagi menggeledah rumah-rumah reyot, manatau ada senapan atau bendera kusut yang disimpan. Tapi tak didapati apa yang hendak mereka cari. Hingga orang-orang kampung itulah yang kena celaka. Di tunjang-tunjangnya mereka, disikutnya dengan ujung senapan, kalau kena gamparan dan jambakan itu sudah biasa, tapi sakit juga. Padahal tak tahu apa-apa pun mereka itu.
Malang sekali orang kampung kita.

Begitulah mereka para militer, menjalankan tugasnya sesuai perintah. Walau ada beberapa anggota militer yang tak kuasa melihat penyiksaan itu, di tambah lagi permohonan belas kasih dari janda-janda dan anak kecil yang bersujud-sujud meminta ampun. Tak kuasa militer itu, tapi apa boleh buat? Perintah harus dilaksanakan. Bila tidak mereka pula yang apes kedudukannya “Gali informasi sampai dapat, bila perlu bunuh saja mereka semua. Payah...”
Habislah orang kampung kita.

Sedari tadi rupanya komandan gagah melirik ke arah satu gadis molek nan aduhai. Seorang Inong di kampung itu yang di gilai para pria kampung sebelah. Tak seberapa cantik dilihat memang, tapi cukup manis dipandang lama. Silahkan diumpamakan saja sendiri seperti apa bentuknya itu gadis. Yang jelas, lebih manis dari semanis-manisnya orang kampung kita yang ketakutan itu. Digiringlah Inong menuju sebuah rumah oleh komandan biadap yang mengaku sopan itu. Ingin dia bercakap-cakap dengan Inong mengenai pergerakan perempuan yang ikut bergerilya di rimba. Begitu alasannya.

“Terlibat separatis kau?”

“Tidak tuan, bahkan tak pernah pun saya bercakap dengan mereka” oh lembutnya Inong dengan suara ketakutan itu. Makin semangat saja lawan bicaranya hingga menyerukan agar para anggota segera keluar dari rumah itu.

“Tak percaya aku, ada pasti coretan lambang dari bendera itu di sekitaran tubuhmu. Boleh aku lihat?” Habislah sudah si Inong yang digilai pria kampung sebelah.


Ayam menang, kampung tergadai

Plaaakkk...

Meubicut tan jeut kajaga kehormatan keuh!

Di gampar pula Inong... Oh Inong, mengapa Inong? Satu kampung menghina kau akibat modus si biadap yang mengaku sopan dikalangannya itu. Kini bapak dan ibumu pun sudah mulai tak peduli lagi padamu Inong. Mereka malah lebih mementingkan susah payah bergerilya ketimbang kau?
Sedih sekali melihat orang kampung kita yang sudah keras seperti batu watak dan hatinya.
Malang sekali kau wahai Inong yang tak lagi di gilai oleh para pria dari kampung sebelah.
Tak henti-hentinya kau di cerca.
Berdo’a saja suatu saat maut akan mencintaimu Inong.
Tak perlu Inong bersedih.
Karena Tuhan pasti membalas.

image

Antara Hidup, atau Mati Saja | Ecency