Tiga Malam di Hotel

Words
358
Reading
2 min
Listen
Play
5y

img_0.2335355700562005.jpg

Diantar ojek, saya tiba di Hotel Ayani, kawasan Peunayong, pada siang yang cerah. Setelah membayar ongkos, saya masuk ke hotel. Seorang satpam mempersilahkan cuci tangan terlebih dahulu. Di ruang lobi, saya menuju ke meja pendaftaran. Setelah mengisi beberapa dokumen, saya naik ke lantai dua. Tiga malam saya nginap di kamar 216.

Pada pagi sampai sore, saya mengikuti pelatihan mengelola perpustakaan desa yang dibikin oleh Perpustakaan Nasional. Ada sekitar lima puluh peserta dari beberapa Kabupaten di Aceh. Ada yang dari Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Utara, Nagan Raya dan Aceh Barat. Saya mewakili pustaka Guahira dari Bireuen.

Kesampingkan dulu perihal pelatihan, jika nanti kesampaian saya cerita lebih lengkap. Agar postingan ini lebih panjang lagi, saya cerita saja perihal saya dan hotel. Jujur saja, ini pertama kali saya memegang kunci kamar hotel. Bersebab pencegahan Corona, tiap seorang peserta kebagian satu kamar.

Dunia maju kelewat canggih, kunci kamar hotel kini berbentuk kartu, persis ATM. Tinggal tempel doang, suara notif muncul, pintu kebuka. Celakanya saya butuh waktu lama di depan pintu saat masuk pertama kali. Saya bingung kartu itu hendak di tempel dimana.

Ketika masuk kamar saya makin gagap. Kamar gelap gulita, saya jangkau tembok kiri kanan, tangan saya meraba-raba, berharap ada saklar yang nempel. Tak ketemu. Saat genting seperti itu, untung saja, muncul ide menghidupkan senter di HP. Saklar ketemu, kunci saya tempelkan, lampu nyala. Akhirnya. Tak lama setelah saya menaruh barang bawaan di meja. Lampu padam lagi. Apaan ini!

Saya menuju saklar, menempali kartu, lampu nyala lagi. Saya menatap heran pada saklar. Ternyata ada lubang kecil di sana, tempat dudukan kartu, agar listrik tetap nyala. Itu saya ketahui setelah beberapa menit memahami petunjuk bahasa inggris di bagian bawah saklar. Bangke. Menyalakan listrik saja, begitu repot.

Sendiri di kamar hotel tampak asing sekali. Kamar menyediakan fasilitas mantap. AC yang dingin. TV kabel bersiaran terbatas. Di meja sudut ruangan, ada teko pemanas air, lengkap beberapa sachet, kopi dan teh. Segera saya bikin minuman. Saya berbaring di yang kasur empuk dan bersih, alamat tak terpejam mata. Enak betul. Saya pandangi seisi ruangan kamar. Tiba-tiba, terbayang istri di kampung sana. Alamak. Pengen pulang!!!

img_0.7041237168749158.jpg
Ruang lobi

img_0.35559260680671423.jpg
Interior lobi

img_0.29698706343988646.jpg
Kamar tidur

img_0.7378912724241464.jpg
Ruang makan

img_0.5180101855185616.jpg
Ruang di toilet lobi

Tiga Malam di Hotel | Ecency