Aku bersyukur betul punya lambung yang masih menerima asupan kopi dalam bentuk apapun, terserah dia tumbuh di dataran tinggi atau rendah, kurang peduli juga dia dibikin dengan metode yang memusingkan, dengan segala alat berat, dan segala macam yang serba aneh itu.
Bagiku kopi ya kopi, persetan dengan segala filosofi yang terkandung di dalamnya. Kopi apa saja kutenggak habis-habisan, tentu dengan kadar gula yang tak menggunung di dasar cangkir. Heran juga aku, kadang mau duduk sebentar sambilan ngopi, kok harus melalui aneka kerumitan yang membingungkan. Ada-ada saja.