Kira-kira, dua minggu sebelum 20 Desember 2017, di Bivak Emperom kediaman @kanotbu, diskusi ringan dan angan-angan dicatat di papan tulis, yang penting-penting. Obrolan menerbitkan buku kumpulan tulisan di akun steemit mengalir begitu saja layaknya air di sungai krueng Aceh, entah ada kebiasaan hanyut 'hajat' orang yang sedang kebelet, saya tidak tahu. Yang jelas, markas tentara ada di bantaran sungai sana.
Sebenarnya ide mewujudkan buku berawal dari mimpi (entah siapa yang mengigau sore itu) lalu menjurus ke arah, kenapa tidak? Ya sudah, lagipula tulisan telah jadi di akun steemit masing-masing kawan. Tinggal pilih pilah, tata letak, beberapa coret ilustrasi, kemudian diantar ke percetakan. "Tanggal empat Januari, saya hubungi kembali, mudah-mudahan sudah dapat dipegang, Insyallah" begitu kata tukang cetak, mantap jiwa.
Saya punya alasan tersendiri kala menyundul tendangan bebas wacana menerbitkan buku. Sebentar, mari singgah ke stadion dulu. Penulis buku bolehlah saya ibaratkan seperti pemain sepakbola. Pembacanya, boleh tak boleh saya sebut saja sebagai penonton. Nah, saat menonton bola, kadang-kadang saya ingin menjadi pemain, begitu juga ketika membaca buku.
Jangan berpikir yang macam-macam, ini tidak berlaku untuk pemain film biru. Terus terang saya tidak bisa akting, melihat kamera saja, saya kikuk tidak tau mau ngapain, maklumlah saya phobia kamera level 3gp, apalagi dengan sudut pengambilan yang itu-itu saja, tidak jelas. Ya ampun, sudah berdosa, bikin malu, kualitas jelek pula. Duh, lindungilah postingan ini yang semakin tidak terarah. Na'uzubillah.
Buku yang sedang "bersalin" itu dipastikan sampul depannya tertulis "Judul di Belakang." Agak aneh memang, barangkali judul yang sebenarnya memang ada di sampul belakangnya. Entahlah, yang jelas itu buku tidak ada nomor ISBN-nya dan di terbitkan oleh Tansopako Press (sekelas info; tansopako artinya tidak ada yang peduli) merupakan salah satu lini aksi komunitas @kanotbu.
Kita menanti lebih banyak lagi para stemian yang tentunya lebih top markotop, menelurkan buku-buku keren menambah keragaman literasi melalui media cetak. Saya kira, buku bisa jadi bahan efektif untuk mempromosikan steemit ke sudut jangkau luas, misalnya pustaka kota, pustaka gedung pendidikan hingga pustaka kampung. Ini juga membuktikan berkarya di steemit, tidak hanya mendapat reward saja, tapi juga bisa menabalkan nama di sampul buku.