Bulan Februari tinggal menghitung hari. Aku ingat betul ketika si penagih utang itu mengingatkan kepadaku bahwa di bulan Februari surat tanahnya harus dikembalikan. Jika tidak, semua barang-barang di rumah orangtuaku diambil.
Tidak hanya itu, mungkin hubungan persaudaraan antara ayahku dengan si penagih utang itu akan putus. Putus hanya karena gara-gara aku tidak punya uang untuk membayar utang.
Benar sekali apa yang dikata bang @rismanrahman saat meetup Komunitas Steemit Indonesia (KSI) Chapter Banda Aceh pada Sabtu, 13 Januari 2018 lalu. “Uang menjadi pemisah, pemicu konflik, bahkan hingga perang. Kini, orang-orang kembali terhubung dengan uang, dan uang itu adalah cryptocurrency” ujarnya.
Foto @rismanrahman
Penggalan kalimat itu langsung menempel diingatanku. Andai aku punya uang tentu tidak perlu ada keributan antara ayahku dan si penagih utang yang merupakan adik kandungnya sendiri.
Ah, tidak usahlah aku mempersoalkan si penagih utang itu, setiap orang kan mempunyai hati dan perasaan yang berbeda-beda.
Iyo nien kecek urang dusanak talatak di pinggang, jiko awak tangah sanang kasadonyo datang, tapi kalau awak punyo utang dusanakpun jadi hilang.
Memang benar kata orang saudara terletak di pinggang, jika kita sedang senang semua sanak saudara datang, tapi bila kita punya utang saudarapun jadi hilang.
Pesan itu sering kali diucapkan nenekku dulu menggunakan bahasa aneuk jamee. Kadang dia pun menyanyikannya kepadaku yang belum mengerti makna dari pesan tersebut.
Sekarang aku mengerti maksud dari pesannya itu. Iya, semua karena uang. Di mana aku harus mencari uang untuk melunasi utang orangtuaku itu?
Kredit Bank yang Mencekik
Sungguh sistem yang diterapkan di perbankan membunuh rakyat kecil seperti kami. Bunga dari kredit bank tersebut ibarat memasukkan air ke dalam kantong plastik yang bolong. Sekuat apa pun kita mencari uang habis untuk menutup bunga dari kredit tersebut.
Entah kenapa sistem yang sudah jelas-jelas mengandung unsur riba ini dilegalkan di negara yang mayoritas beragama Islam ini? Hingga akhirnya orang tuaku tergoda untuk mengambil kredit dengan menjaminkan surat tanah dan rumahnya, juga surat tanah adik ayahku.
Ilustrasi. Sumber foto Pixabay
Sepuluh tahun setelah mengambil kredit tersebut, sekarang rumah dan beserta isinya terancam disita oleh pihak bank lantaran pembayaran kredit yang macet. Untug kami masih bisa menempati rumah itu dan diberi tenggat waktu untuk melunasinya.
Tapi yang paling mendesak ialah adik ayahku ini meminta surat tanahnya untuk dikembalikan. Kami harus menyiapkan uang 25 juta untuk bisa mengambil surat tanah tersebut di bank. Bila uangnya diangsur seperti cicilan awal sebanyak 2,5 juta perbulannya kali 14 bulan sisa angsuran maka totalnya 35 juta.
Aku begitu terkejut saat pegawai bank tersebut menjelaskan rinciannya. Begitu besar bunga yang diambil dari bank tersebut, padahal orangtuaku hanya meminjam uang 35 juta. Kredit itu macet setelah 6 kali pembayaran. Bayangkan berapa riba yang telah dihasilkan dari transaski tersebut?
Oh, Tuhan. Kenapa aku baru sadar sekarang setelah 10 tahun lamanya?
Saat orangtuaku mengambil kredit di bank dulunya aku tidak peduli, mungkin karena usiaku saat itu baru 15 tahun. Aku tidak dilibatkan karena itu belum menjadi urusanku. Orangtuaku yang awam tentang sistem perbankan, tergoda dengan bujuk rayu pegawainya untuk meminjamkan uang di bank.
Sekarang ada 3 kredit bank yang jumlah bayarannya berbeda-beda membuat orangtuaku tercekik untuk melunasinya. Bagaimana mau membayar karena ayahku telah kehilangan pekerjaannya. Kini kami benar-benar berada di posisi minus dengan utang yang menumpuk.
Mencari Pinjaman
Orangtuaku memang salah mencari solusi keuangan di bank, hingga akhirnya mereka terbelenggu dengan utang di usia senja. Apa pun ceritanya mereka tetap orangtuaku yang membesarkanku hingga dewasa sampai saat ini.
Utang mereka juga menjadi kewajibanku untuk melunasinya. Tapi sayangnya aku belum mempunyai penghasilan sebanyak itu. Jadi mencari pinjaman salah satu solusinya.
Ilustrasi. Sumber foto Pixabay
Aku mencoba meminta pinjaman kepada salah seorang teman blogger yang katanya mempunyai penghasilan puluhan juta berkat google adsense-nya. Sayangnya teman tersebut juga sedang mengalami kekurangan pemasukan.
Kemudian aku mencoba meminjam kepada temanku yang bekerja sebagai perawat di luar negeri dengan penghasilannya per bulan 8,5 juta. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadaku karena dia baru saja membeli kebun yang menguras isi tabungannya.
Terdengar kabar bahwa temanku yang dulunya blogger setelah bermain steemit lima bulan, menghasilkan uang 22 juta dan kabar terakhir saat awal Januari ini dia tembus mencapai angka 40 juta. Niat untuk meminta pinjaman kepadanya pun muncul.
Lalu niat itu gugur seketika bagai bunga sakura di musim semi setelah mendengar materi yang disampaikan oleh Bang @rismanrachman di kelas Forum Aceh Menulis (FAMe). Materi itu tentang cerdas mengelola steemit yang membuatku menetepkan pilihan menjadi steemian untuk membayar utang.
Mungkinkah Steemit Bisa Menghasilkan Uang 25 Juta dalam Waktu Setengah Bulan?
Pertanyaan itulah yang aku lontarkan kepada Bang Risman melalui pesan Whats App. “Tidak ada yang tidak mungkin, sebab di steemit ada juga faktor keberuntungan” jawabnya.
Menurutku ini sebuah jalan bagiku untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah melalui tulisan-tulisanku. Selama ini aku menulis di blog, tidak ada terniat di hatiku untuk menggunakan google adsense untuk meperoleh rupiah. Padahal jumlah pengunjung blogku lumayan banyak, tapi aku ingin memberi kenyamanan buat mereka yang membaca tulisanku. Makanya aku tidak menggunakan iklan.
Melihat sistem di steemit yang tidak ada iklan lalu lalang membuatku berniat untuk menginvestasikan tulisanku disini. Aku pun membuat strategi untuk mendapatkan 25 juta pertama di steemit.
Seperti yang Bang Risman katakan, tidak ada yang tidak mungkin. Aku hurus mengikuti proses itu. Beberapa strategi yang bisa kulakukan yaitu;
1. One day one posting
Aku telah meniatkan minimal satu hari satu postingan, karena di steemit dituntut konsistensi dalam membuat postingan.
2. Bergabung dengan KSI Chapter Banda Aceh
Aku sudah meminta dimasukkan ke dalam grup whats app kepada Bang Risman, tapi katanya aku harus jumpa secara offline dulu dengan pengurusnya. Semoga saja ada yang membawaku ke markas mereka. Cc @ihansunrise
3. Saling mengomentari tulisan orang dan memberikan upvote
Ini sudah mulai kulakukan setiap harinya dengan mengupvote tulisan teman-temanku dan mengomentarinya.
4. Berdoa
Ini yang paling penting dari segalanya, karena ada Tuhan yang menggerakkan semuanya. Jika dia mengizinkanku mendapatkan uang 25 juta pertama di steemit ini, maka aku bisa membayar utang orang tuaku.
Inilah yang disebut keberuntungan yang dibilang Bang Risman, bila Tuhan menggerakkan hati orang-orang yang mempunyai steem power tinggi (whale) untuk mengupvote tulisan yang aku posting, tentu 25 juta itu bisa didapat dalam jangka waktu setengah bulan.
Aku berharap steemit ini jalan keluar untuk menyelesaikan utang orang tuaku di bulan Februari nanti. Terlepas dari itu sebenarnya steemit ini adalah ajangku untuk mengahasilkan berbagai macam karya dalam bentuk tulisan.
Bila teman-teman steemian mempunyai strategi yang bisa kulakukan untuk mendapatkan 25 juta pertama, mohon tuliskan dikomentar.