Adik Belajar Sepeda

Words
188
Reading
1 min
Listen
Play
8y

“Mudah kok belajar sepeda,” celoteh adik saat ayah mencuci sepeda masa kecil saya untuk digunakannnya. Dia ikut membantu mencuci pada Ahad kemarin.

1vn8ys3apm.jpg

Adik sempat protes, tak mau memakai sepeda bekas. Mau dibelikan yang baru, alasannya karena warna pink dan itu sepeda cewek. Tapi ayah memintanya untuk belajar dulu, jika sudah lancar maka yang baru akan dibelikan. Semangatlah si adik.

Sore harinya, ayah mengajarkannnya. Hal yang disampaikan pada awal ternyata salah. Dia meralatnya sambil senyam-semyum, “susah juga naik sepeda, belum bisa seimbang,” katanya kemudian.

y48w51d9jj.jpg

Semangatnya kuat untuk belajar sepeda, mungkin karena suka. Ini beda ketika jatah belajar membaca dan menulis tiba pada malam hari. Ada saja alasannya, dari pening, kelelahan sampai mengantuk.

Ayah sabar mengajarkannya di jalan komplek kami. Bolak-balik dari ujung ke ujung. Ini mengingatkan saya saat seusianya belajar naik sepeda. Jatuh bangun berusaha, tapi harus tetap semangat.

iy0penvnok.jpg

Belajar sepeda sekilas gampang, tapi susah juga. Kita harus fokus pada setang dengan kaki terus melaju untuk gerakan roda. Jika sudah bisa seimbang, maka akan mudah melakukannya.

Seimbang dan fokus adalah kunci, juga dalam kehidupan sehari-hari. Satu lagi, jangan anggap remeh sebelum mencoba melakukannya. Semangat adik, kamu pasti bisa. []

Adik Belajar Sepeda | Ecency