Jangan katakan padaku, kebeningan mana melebihi Embun di tebing usia,, sebab jernih embun, kata yang mengukur cinta, seperti tetes sajak kupercikkan dikeningmu penuh debu,,
Jangan kau tanya, kenikmatan mana melebihi nikmat nya mengecup Bibir mu,, sebab bibir kita, hanya sepersekian dari waktu, meresap didada,,
Jangan kau tanya, Tulus dalam nya cintaku, mataku berkilau seperti bulir gerimis dilancip daun, dalam lembar daun tumbang, perih,,,
Apa yang harus kuberi pada cinta, sementara aku tak cukup sempurna menggambarmu, tersimpan dalam ruang imajinasi,,
Tangan ku bergelantung dibawah reranting sunyi, menengadah mengharap ada setetes harap, cintamu kan kembali padaku,, namun,,
Pun lautan tak cukup, tuk melukiskan peta wajah mu dibalik dingin nya pelangi itu,, biar, biarlah,,
Sajak ku akan terus mengalir dari sudut mata dan doa perih teririh,, sambil mengulum senyum dirias wajah rerumputan, sepi dan menanti,,,