Trend bersepeda sempat booming dua tahun terakhir. Secara perlahan, trend itu pun meredum seiring makin tingginya aktivitas warga terhadap kebutuhan hidup. Saat sepeda digalakkan kembali, berbagai klub sepeda pun muncul. Ada yang menabalkan diri dengan Bike to Work, ada juga Hobic atau Hospital Bicycle-sebuah klub sepeda yang beranggota kan paramedis dan pengelola rumah sakit di Banda Aceh, Komunitas Sepeda Ontel alias sepeda zaman ala Casille, Valuas- jenis sepeda bergengsi pada zaman old.
Para jurnalis pun tak mau dicibir. Mereka pun sempat berkumpul dan menobatkan diri sebagai Jurnalis Pencinta Sepeda (JPS) similiar dari GPS (Global Positioning System)- suatu navigasi atau penunjuk arah di bumi. Antara JPS dengan GPS menandakan bahwa ada tujuan dalam pengucapan agar mudah dipahami dan dikenali.
Pencinta sepeda yang setia masih mengayuh pedal saban pekan atau waktu tertentu di beberapa kawasan di Aceh. Mereka yang doyan berpetualang berani menggenjot hingga puluhan kilometer. Sebaiknya, bagi cuma demam sesaat, sepeda mereka dipajang di garasi atau sandaran dinding rumah sebagai kenangan.
Tanpa ada nama atau ikon, mereka-para jurnalis-yang gemar olahraga bersepeda setiap membelah kota atau pedesaan bahkan perbukitan. Karena saat sepeda, para petualag berita secara tak sengaja menemukan posisi-posisi atau tempat yang suatu akan dikunjungi atau didatangi. Entah karena liputan, entah juga karena kebutuhan. Yang pasti, mendayung terus untuk menyehatkan sekaligus menyegarkan. Karena bersepeda atau lebih dikenal sebuta gowes, selain menyehatkan juga menyegarkan. Dan tentunya yang paling penting adalah mengutip pepatah orang bijak. "Jauh bejalan, banyak yang dilihat".