Garbage, Garbage, and Garbage Again (Sampah, Sampah, dan Sampah Lagi)

toshare(41)
Published in
#life
Words
227
Reading
2 min
Listen
Play
9y

Habis makan, buang sampah. Sebelum makan buang sampah. Di jalan ditemukan sampah. Dalam rumah, ada sampah. Dalam masjid banyak sampah. Naik motor buang sampah. Buka jendela mobil lempar sampah. Akhirnya, kita pun jadi sampah. Urutan kata sampah ini terilhami pada sebuah iklan minuman ringan yang sering diputar di televisi atau media massa. Iklan mereka bukan sampah tapi makan.

Saya berpikir menarik juga ide perancang iklan yang mengingatkan kita pada budaya konsumeris bangsa Inonesia yang akhirnya menghasilkan sampah. Di mana pun kita duduk, sampah nyaris menjadi pemandangan biasa tanpa merasa bersalah membuang sampah. Apalagi terpanggil mengutip sampah jika ditemuakn berserakan di jalan.

Kita pasti benci dengam sampah. Karena sampah dianggap tak berguna. Memang, namanya saja sampah. Kita sangat jarang memperhatikan siapa yang memproduksi sampah. Seakan sampah itu bukan hasil sisa makan atau kemasan yang sering kita buang begitu saja.

snap (14).jpg

Tak peduli, alimkah dia, cerdaskah dia, atau bersihkan dia. Yang pasti buang sampah sembarang tempat menjadi kebiasaan bangsa kita. Geramnya, kita tak pernah sadar dan senantiasa melempar kesalahan pada orang lain saat menyaksikan sampah dibuang atau tercecer di mana.

snap (19).jpg

Jumat pekan ini satu unit mobil melintas di jalan protokol Kota Banda Aceh. Sebuah seruan mengajak warga ibukota Serambi Mekkah memeriahkan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 26 Februari 2018 mendatang. Meskipun HPSN jatuh pada tanggal 21 Februari setiap tahun. Tak apa untuk mengingatkan warga kesadaran terhadap sampah.

Garbage, Garbage, and Garbage Again (Sampah, Sampah, dan Sampah Lag... | Ecency