Entah kenapa, selalu jika ada undangan ke Yogyakarta saya seperti berdegub-plas. Kota ini meninggalkan banyak kenangan dari sejarah perkuliahan, pergulatan dunia aktivis, hingga pencarian bakat pengetahuan yang panjang.
Saya menghabiskan waktu lebih 11 tahun di kota ini untuk S1 dan S2. Jika saja tidak ada tsunami pada 26 Desember 2004 - dan saya wisuda S2 sekitar akhir awal Desember 2004, bisa jadi saya tak akan kembali dengan cepat. Saat itu saya sudah menjadi dosen luar biasa untuk program S1 Teologia Universitas Sanata Dharma dan mulai akrab dengan mahasiswanya yang sebagian besar sepantaran umur dengan saya. Namun, tak ada pilihan "jika" dalam urun waktu yang telah menjadi sejarah. Hayati saja perjalanan waktu yang telah lewat.
Kali ini saya ke Yogyakarta untuk mengikuti seminar dan workshop tentang advokasi keberagamam yang dilaksanakan 20-23 November 2017. Saya harus tiba di Yogyakarta sehari sebelumnya dan kembali ke kota masing-masing sehari setelahnya. Ini mungkin waktu terlama saya berada di Yogyakarta setelah keluar dari sana pada 2005.
Acara ini dipusatkan di Hotel Jogja Plaza yang bertempat di Jalan Gejayan. Hotel dengan nuansa eksotika Jawa dengan suara gending dan gamelan memang sangat Jogja.
Waktu tiba langsung saya gunakan untuk menikmati suasana kota. Ya pergi nonton di Empire XXI yang posisinya di Jalan Solo-Yogyakarta. Kira-kira hanya 1 KM dengam berjalan kaki kita memerlukan 10 menit.
Tak ada film yang sangat menarik, kecuali film yang digemari remaja saat ini yaitu Justice League. Film yang menghabiskan biaya hingga 300 juta dolar ini memang memiliki titik lemah, yaitu ketika Superman harus bangkit dari kubur.
Dalam situasi teologis mana pun, kejadian ini pasti tidak disenangi dan dibenarkan. Biasanya yang bangkit dari kubur selalu makhluk jahat dan orang yang ditolak bumi, sebagai wujud kejahatan yang terlalu banyak dilakukan di atas bumi.
Namun sebagai sebagai konsep hiburan secara umum, film ini cukup menghibur terutama bagi anak-anak. Efek visual dan aksi tarung para super hero yang menggemaskan.Saya kemungkinan akan membawa anak-anak untuk menikmati film ini. Meskipun tentu harus memberikan penjelasan bagaimana orang yang sudah mati bisa dihidupkan lagi. Hanya satu makhluk kesayangan Tuhan yang bisa kembali lagi ke dunia, yaitu Yesus/Nabi Isa. Tugasnya pun cuma satu yaitu menegakkan keadilan dan memberikan kesaksian tentang keesaan Tuhan.
Kembali tentang Yogyakarta, tak ada yang menyamainya. Mungkin hanya Bali yang sangat memikat. Namun nuansa Islam memang lebih lekat di Yogyakarta, termasuk gelar Sultan Yogyakarta sebagai "khalifatullah".
Nasehat akhir, nikmati waktu dan syukuri apa yang kita dapatkan.
20 November 2017