Sadar atau tidak, Islam sebagai agama mendapat predikat negatif di mata orang-orang non Islam. Faktor penyebab mendapat opini negatif disebabkan oleh perilaku umat Islam itu sendiri. Umat Islam generasi terakhir menjadi sekumpulan munafiqun, kehilangan sifat amanah, tamak, kikir dan berbagai sifat jelek lainnya bersemayam dalam jiwa kaum muslim saat ini. Pemimpin lebih mementingkan kekuasaan dibandingkan rakyat. Kelakuan kontraproduktif dari nilai dakwah telah menyebabkan agama ikut terseret ke dalamnya. Segala sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan untuk kepentingan agama, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Miskin, terbelakang dan bodoh gambaran mayoritas umat saat ini. Para umat di Timur Tengah terpaksa memerangi negara sendiri sebagai bentuk protes atas kesewenang-wenangan pemimpin. Akses sumber daya dan sektor ekonomi yang tidak terjangkau oleh rakyat alasan utama melakukan protes di samping faktor politik penguasa yang berusaha mempertahankan kekuasaan dengan cara apapun. Kehidupan tatanan bernegara jauh dari nilai-nilai Islam yang luhur dan tamatan lil'alamin. Rakyat dan penguasa bagaikan air dengan minyak, tidak ada lagi pemimpin yang bisa menyatukan, yang ada ketua kelompok gerakan untuk mencapai misi-misi tertentu. Situasi umat yang porak poranda di Timur Tengah dimanfaatkan oleh negara-negara barat yang anti Islam. Mereka akan terus memprovokasi satu sama lain, bantuan keuangan untuk pemerintah dengan imbalan akses sumber daya mengalir lancar. Kepada rakyat mereka mengadu domba dan memberikan bantuan persenjataan. Maka umat Islam akan saling menghabisi antar sesama.
Pemimpin egara-negara mayoritas berpenduduk muslim lebih banyak menzhalimi rakyatnya dibandingkan mengayomi. Gambaran konflik antara rakyat dengan pemerintah di beberapa negara Timur Tengah tidak berbeda dengan negara-negara di Timur Jauh etnis melayu. Kalau bangsa Arab berwatak keras, pantang menyerah dan tidak takut mati maka mereka siap perang walau dengan pemerintah sendiri. Akan tetapi watak bangsa rumpun melayu yang lemah, tahan bungkaman dan takut mati menjadikan umat Islam Timur Jauh menjadi kumpulan orang-orang yang hidup penuh dengan kepura-puraan, bermuka dua dan bersifat munafik. Tidak ada suara protes walau hidup semakin sulit.
Sistem bernegara yang dibangun berlandaskan demokrasi melahirkan pemimpin berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam pelaksanaan bertolak belakang dari slogan-slogan demokrasi. Gambaran rakyat adalah pemimpinnya dan gambaran pemimpin adalah rakyatnya begitulah ketetapan. Maka tidaklah mengherankan bila mayoritas rakyat munafik akan melahirkan pemimpin munafik, mulut berkoar atas nama rakyat kenyataannya hanya membawa misi partai ataupun golongan. Sangat naif memang, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim tidak menjalankan ajaran agamanya yang selalu diagung-agungkan agama terbaik sepanjang masa dalam tatanan bernegara. Agama Ramatan lil'alamin yang sempurna aturan hukum dan tata cara bernegara akan tetapi tidak diterapkan oleh umatnya sendiri.
Dalam bidang ekonomi dan sumber daya umat Islam lebih memilih mengadopsi sistem kapitalis daripada sistem ekonomi syari'ah. Ekonomi syari'ah lebih mementingkan kemahaslatan umat tidak mampu mengalahkan sistem kapitalis yang lebih mementingkan keuntungan daripada kemanusiaan. Yang kuat memangsa yang lemah dan yang kaya makin kaya, yang miskin makin tersingkir. Ekonomi kapitalis lebih cocok diterapkan di negara maju dengan industri sebagai penggerak perekonomian. Penghasilan rakyat di negara industri surplus dibandingkan pengeluaran dan lapangan pekerjaan terjamin serta dana pensiun yang cukup. Tidak mengherankan para penduduk negara industri sanggup membiayai liburan akhir tahun hingga ke negara-negara Timur Jauh. Ketika kapitalis dijalankan di negara-negara miskin maka yang terjadi adalah kesenjaangan sosial yang tinggi, ketimpangan, keserakahan dan melahirkan pejabat-pajabat korup. Dalam kehidupan masyarakat melahirkan pelaku-pelaku kriminalitas akibat dari kesenjangan sosial. Akses keuangan dan sumber daya hanya dikuasai oleh sebagian orang dan membiarkan sebagian lainnya hidup dalam serba kekurangan.
Sebagai umat Islam seharusnya menjadi contoh bagi umat non Islam dalam tatanan negara, politik, hukum serta sistem ekonomi. Menjadi aneh, jika memang Islam telah mengatur segala permasalahan umat tetapi tidak dipakai oleh umat dan malah mengadopsi sistem kapitalis yang tidak berperikemanusiaan dan berkeadilan. Akibat dari meninggalkan ajaran agama maka umat ini menjadi manusia-manusia jahiliyah modern dan kelakuan negatif berakibat pada penilaian agama yang dianut. Seolah-olah agama ini yang jelek padahal perilaku pemimpin serta rakyatnya yang telah membelakangi agama itu sendiri.