Uang 100.000 dan uang 1000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh Bank pada saat bersamaan.
4 bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja didalam dompet seorang pemuda kemudian terjadilah percakapan antara mereka :
Uang 100.000 : Kenapa badan kamu begitu lesuh, kotor dan bau amis ...????
Uang 1000 : karena aku begitu keluar dari Bank langsung berada di tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang, sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis.
Uang 1000 bertanya balik kepada Uang 100.000 : kenapa kamu keliatan begitu baru, rapi dan bersih ....???
Uang 100.000 Menjawab : karena begitu aku keluar dari Bank langsung di sambut oleh perempuan cantik dan beredarnya pun di Restoran mahal, Mall dan hotel-hotel berbintang, serta keberadaan ku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.
Uang 1000 : pernahkah engkau mampir ditempat Ibadah ...????
Uang 100.000 : Belum pernah !!!
Uang 1000 : ketahuilah, walaupun keadaan ku seperti ini, setiap hari Jum'at aku selalu mampir di celeng-celeng Mesjid dan di tangan anak-anak yatim/piatu, bahkan aku selalu bersyukur Kepada Allah. aku dipandang oleh manusia bukan karena nilai tapi karena manfaat.
Akhirnya menangislah Uang 100.000 karena merasa besar, hebat dan tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini.
*P E S A N*
Jadi bukan seberapa besar penghasilan anda, tapi seberapa bermanfaat penghasilan anda itu. Kekayaan bukanlah untuk kesombongan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu Mensyukuri Anugerah dan Rezeki yang Allah titipkan kepada kita.