Rahasia Bunga Keluarga Asteraceae

Words
229
Reading
2 min
8y
Listen to this post
~2 min

IMG_20180607_152631595.jpg

Biasanya mengeposkan blog tentang yang hijau-hijau. Sekali ini yg kuning. Ibarat mengganti menu dawet dengan kolak pisang.

Sejak mengungsi sejenak ke Prabumulih demi kelahiran anak pertama, saya banyak menanam di pekarangan. Kebetulan pekarangan rumah orang tua relatif kosong. Kecuali sedang banyak pesanan bibit karet, halaman rumah jadi tempat transit bibit.

Maka dimulailah penebaran benih-benih. Selain benih sesayur, banyak ditebar pula benih tanaman bunga dari keluarga kenikir-kenikiran.

IMG_20180607_124851565.jpg
Bunga matahari, tahi kotok, kenikir, dll. Seratus hari kemudian... barisan tanaman bunga matahari mulai bersemi.

Pemilihan jenis tanaman bunga ini bukan tanpa alasan. Pertama, tentu saja ditujukan sebagai penghias.

IMG_20180607_124801967.jpg
Kedua, tumbuhan jenis ini dapat menyuburkan tanah kurus, terutama karena ada bakteri pengurai phospat.

IMG_20180607_124742373.jpg
Ketiga, ditujukan untuk produksi benih yang akan disebarkan ke 30 kebun belajar (demplot) pertanian ramah gambut. Kebun-kebun ini berada di 30 desa yang didampingi Institut Agroekologis Indonesia (INAgri). Tersebar di 3 kabupaten Sumatera Selatan.

Kelompok-kelompok petani pengelola kebun belajar berminat mengembangkan refugia, baris tanaman bunga yang berfungsi sebagai pengundang musuh alami para hewan pengganggu tanaman budidaya.

IMG_20180613_133930518.jpg

Menanam tumbuhan anggota keluarga kenikir-kenikiran (Asteraceae) menjadi kegiatan bersenang-senang selama di Prabumulih. Pengisi waktu satu jam satu hari. Menjadi penyemarak pekarangan yang kosong. Dan nantinya menjadi penyemarak di kebun-kebun belajar agroekologi di desa-desa.

Tak ada soal dengan warna. Di alam, warna-warna nabati, hijau, kuning, dan warna lain sama berguna dan saling melengkapi. Seperti halnya dawet maupun kolak pisang sama-sama menyegarkan saat berbuka puasa. Hehe

Rahasia Bunga Keluarga Asteraceae | Ecency