Hadirnya bagai pengundang sang pelukis dunia yang namanya tersohor dimana-mana, yang mampu melukis warna sang langit berwarna jingga. Hingga setiap mata yang melihatnya pasti begitu terpesona.
tampil begitu mempesona dengan jingga yang menyala.
Di ujung desa, Mentari yang meninggalkan sang langit ataulah sang langit yang meninggalkannya demi sang rembulan? Mungkin yang tepat adalah bulanlah yang memisahkan mereka. Atau justru tidak pula semuanya? Semua hanya menjalankan titah-Nya tanpa penolakan dan tanpa negosiasi.
Mentari bahkan selalu kembali esok hari setelah kemarin menenggelamkan diri, seperti selalu bersedia memaafkan meski berulang kali terlukai.
Present as the invitee of the world painter whose name is famous everywhere, who is able to paint the color of the sky is orange. Until each eye that sees it must be so fascinated.
look so dazzling with the orange on.
At the end of the village, the Mentari who left the sky or the heaven left him for the moon? Perhaps the right one is the moon that separates them. Or is it not all? All just run his command without rejection and without negotiation.
Mentari always returns the next day after yesterday drowning, as always willing to forgive despite repeatedly injured.