Diujung barat negara korea selatan ada satu desa yang dinamakan gurim, gurim dihuni oleh lebih kurang 600 kepala keluarga, nenek moyang mereka telah mendiami wikayah gurim lebih dari 1000 tahun yang lalu..... Diseberang teluk gurem terdapat konplek industri baja dan kaca sebagai simbol korea ysng baru sedang dalam proses pembangunan.
Sambil duduk dilantai yang dihangatkan secara tradisional dirumahnya, seorang petani tua berusaha mengingat peristiwa perang, ketika itu, desanya selaku dicekam oleh perang, seperti yang dikatakan oleh salah satu anggota masyarakat desa ini "bahkan ayam berhenti berkokok dan anjing tidak berani menggonggong"
Ketika korea terpecah pecah sesudah berakhirnya perang dunia ke dua menjadi korea sekatan yang pro amerika dan korea utara yang pro uni soviet pada tahun 1945, gurem sebagaimana desa desa lainnya terlibat dalam konplik yang berdarah darah antara gerilyawan yang nenginginkan bersatunya korea dibawah bendera komunis dengan tentara pemerintah pro amerika, para tentara mengusir tentara gerilyawan sampai kegunung gunung.
Para gerilyawan akan turun gunung ketika malam tiba untuk mencari makanan, membunuh masyarakat yang tidak mau bekerjasama dan memaksa para anak muda didesa desa untuk bergabung dengan mereka, ketika pagi tiba, polisi datang kedesa desa, memukul dan membunuh mereka yang dianggab bekerjasama dengan kaum komunis.
masyarakat percaya dengan berlakunya sistim kekeluargaan tradisional yang sudah banyak mengalami perpecahan hampir diseluruh korea akibat desakan industrialisasi, mereka juga percaya dengan kepemimpinan empat keluarga utama yang bisa membantu masyarakat gurim menahan diri unyuk tidak melakukan pembalasan dendam, bahkan episode sejarah yang menyakitkan akibat perang sudah mulai berkurang dengan adanya kesadaran selama berabad abad dalam hal pernikahan didalam dan antar kelompok masyarakat dan juga diselengkarakannya pertanian kolektif
Cerita tentang desa gurim yang terletak dikorea selatan, mengingatkan saya bahwa apa yang sering terlupakan dalam misi perdamaian adalah peran nilai nilai kearifan lokal, bisa dikatakan juga bahwa bidang pembanguan perdamaian kebanyakan gagasannya berasal dari pemikiran orang orang barat, terdapat begitu banyak nilai pembelajaran yang bisa kita ketemukan dari keatifan lokal didalam masyarakat yang sedang mencari perdamaian, misalnya praktek budaya pertimbangan komunal pelan pelan mulai hilang diaceh, inilah alasan mengapa kita merasa tertantang dan berharap bahwa yang bisa membawa perdamaian adalah diri kita sendiri,,,,, Dari rakyat........ Untuk rakyat.