Di Langit Ada Aku
.
Diantara rak buku yang tersusun rapi, kau duduk terdiam dengan bukumu. Kaca matamu masih betah menempel disana, barang kali kaca mata itu sudah menjadi peneman hidupmu sepanjang waktu. Bagaimana tidak, kaca mata itulah yang menjadi hal penting dalam membaca.
Kulirik beberapa buku, tidak ada yang menarik hatiku. Semua buku hanya berbau sosiologi dan geografi kumuh. Bahkan beberapa diantaranya sudah tak layak baca karena kusam dimakan waktu. Nafasmu turun naik tanpa sengaja kutemukan kau sedang menatap keluar, entah apa yang ada disana barang kali kau sudah melihat senja. Kaukan memang suka senja, itu aku tahu ketika tak sengaja menemukanmu dipinggir pantai kota kita yang kecil ini, kota yang menjadi tumbuh kembang kita berdua.
Aku diam saja, saat kulihat banyak burung yang terbang bebas mengintip matahari yang hampir tenggelam.
Untuk beberapa saat kuberanikan diri, mendekatimu, deru nafasku berat, ada kau disana, didalam hati yang gundah tanpa makna. Ah senja dengan kau sama saja, sama sama sulit untuk kupahami. Apalagi ketika kita duduk berduaan dibawah langit berbintang. "Hai,,, kataku.
Kau hanya diam saja, dan memandangku tanpa arti. Mungkin ini namanya kebodohan dizaman milenial. Ketika tiga kata sangat sulit untuk diucapkan. Sulit untuk dikeluarkan. Itu pastinya setiap kata mengandung makna yang dalam. Ada perasaanku disana, makanya sangat sulit untuk diucapkan.
Seketika itu juga kau menutup buku, dan memilih pergi.
Sementara aku, kau biarkan saja tanpa sapaan, apalagi hanya sekedar senyuman.
Ah mungkin karena kejadian waktu itu, kau masih saja belum bisa memaafkan aku. Kejadian yang tanpa sengaja kulakukan, padahal aku sudah sekuat tenaga untuk tetap menepati janjiku. Tapi apa boleh buat, polisi sialan itu menahanku dengan semua tetek bengeknya. Ingin sekali kukembalikan waktu, agar bisa menemanimu pergi berkumpul dengan orangtuamu. Padahal itu adalah kesempatan emasku untuk lebih kenal dengan ayah dan ibumu. Tapi semesta berkata lain, sungguh perasaan ini tetap sama, tak sedikitpun berubah.
Diantara rak rak buku aku hanya terdiam dan mati kutu. "Ah mungkin sudah waktunya pergi, untuk apa semua ini." pikirku.