Melihat kursi kosong saya disergap sedih. Dan tiba-tiba merasa kursi yang ada dihadapan saya sebagai simbol diri saya sendiri.
"Aku adalah kamu, kosong," bisik hati saya membaca kursi kosong yang berbicara kepada jiwa saya.
Sejujurnya, malam ini saya merasa kosong. Tidak ada sesuatu yang hadir menjadi bahan untuk dipikirkan. Ini tidak biasa, sama seperti tidak biasa adanya kursi kosong di warung hip burger.
Biasanya di warung yang dibangun dengan kontruksi rumoh Aceh ini selalu ramai pengunjung. "Malam ini warung ini adalah simbol dirimu," bisik jiwa saya kembali, mewakili bisikan warung yang banyak kursi kosong.
"Tuhanku, apa yang terjadi? Adakah Kau hendak bertahta di hati hambaMu yang berdosa ini?"
Hatiku terus berdialog, mewakili kursi, mewakili warung, dan kali ini mewakili langit. "Ya Rabb, apa yang terjadi?"
Saya mengambil kamera, dan mengabadikan kursi kosong tanpa paham fokus yang mesti dituju. Setelah tersimpan dalam kamera saya menemukan angka 19 di tengah meja.
"Wahai yang memiliki Arsy yang Agung, adakah Engkau sedang menyapa hamba dengan kekosongan?!"