"kota seribu satu warung Kopi"

rikilb(34)
Published in
#aceh
Words
238
Reading
2 min
Listen
Play
9y

images.jpg
sumber
Bagi masyarakat Aceh, kebiasan minum kopi di Warkop seperti sudah membudaya. Tak heran, terutama pagi hari, sore dan malam, rata-rata Warkop di kota ini penuh sesak oleh pengunjung. Jangan pernah cerita mereka minum kopi bungkusan pabrik (sachet), karena kopi sachet pasti tidak ingin mereka minum ketika di Warkop. Mereka hanya minum kopi asli buatan lokal, bukan buatan pabrikan.

Jika dulunya Warung Kopi atau Warkop di kota ini bernuansa tradisional, sejak beberapa tahun terkahir terutama setelah Tsunami terus bermunculan Warkop dengan desain menarik dan “up to date”, sebagai tempat kongkow lintas usia. Dikemas sedemikian rupa yang menarik perhatian pengunjung, juga dilengkapi fasilitas Wifi gratis sebagai pelengkap.

Jenis kopi yang bisa dinikmati sangat beragam, dari Robusta, Arabica dan Kopi Luwak juga tersedia. Diracik oleh tangan-tangan yang memang terlatih untuk itu. Mungkin saja banyak orang terhipnotis untuk menyeruputnya kembali, karena tangan cekatan dalam peracikannya. Rata-rata kopi di Aceh ini berasal dari areal perkebunan kopi yang ada di Provinsi Aceh sendiri, terutama kopi dari daratan Aceh Tengah yang sudah terkenal akan produksi kopi Arabica.
images(2).jpg
sumber
Karena menurut saya duduk di Warkop juga bisa produktif, daripada menghabiskan waktu sekedar menonton tv dirumah atau main game. Nongkrong di Warkop selain bersosialiasi dan diskusi membangun, juga membicarakan hal-hal produktif seperti yang saya katakan tadi. Di Warkop tidak ada batasan tema pembicaraan, semua urusan ada, dari urusan jual kambing, surat tanah, cinta segi empat sampai urusan Politik dan penaklukan juga dibahas disini.
IMG_20180205_091339.jpg
(rikilb@rikilb)
images(3).jpg

"kota seribu satu warung Kopi" | Ecency