Mulutmu harimau bagimu, lidah senjata yang paling tajam, ini kalimat yang sudah diajarkan sejak dulu ketika duduk dibangku sekolah dasar dan artinya mengatakan sesuatu harus dipertimbangkan sedini mungkin agar tidak membuat kisruh dalam kehidupan, banyak orang cerdas dan memiliki pengetahuan yang sangat luar biasa dalam mengungkap kata-kata, merangkai kalimat dan kemudian di sajikan diatas pentas agar didengarkan suaranya oleh semua orang bahwa suaranya merdu sehingga membuat orang terlelap mendengarnya.
sumber
baru-baru ini menjadi menarik menyaksikan pemberitaan menyangkut dengan seorang ibu yang membaca puisinya, isi puisinya menjadi sampah karena sudah menghina, tidak semua orang bisa membaca puisi dan tidak semua orang mampu menulis dengan baik dan benar, tetapi mencari popularitas bukan dengan cara menghina.
semua paham betul terkait perjuangan yang sudah dilakukan oleh para pendahulu di negeri ini, dan jaganya juga dihormati, anak dari seorang pendiri negara ini sudah mencoreng wajah perjuangan, sudah membuat suasana negeri ini gaduh, semua orang akan terusik kalau membuat puisi seperti itu, pahamlah kita semua bahwa yang membaca puisi tokoh politik nasional dan seorang anak pejuang.
tetapi sangat kita sayangkan bahwa tidak memiliki etika dan pengetahuan baik dalam berpuisi, bisa jadi para seniman akan tertawa sejadi-jadinya ketika mendengar puisi yang dibaca oleh perempuan tua itu, puisinya bukan menjadi semangat untuk orang lain.