Malam Bersama Ibu

Words
505
Reading
3 min
9y
Listen to this post
~3 min

image

Malam beku di ujung desember
Tanpa penerangan berteman sunyi
Hanya gemuruh nyanyian pasca hujan
Pengiring menuju impi
Seperti bagaimana ibu berpesan
"Sudah waktunya tuk mengistirahatkan diri, tidurlah nak"

Harusnya mata ini sudah terpejam terbenam dalam taruhan permainan malam
Antara indah maupun kelam
Namun entah mengapa
Punggungku yang menghadap dinding mendadak dingin hingga merinding
Kedua mata menatap lekat sesosok yang tengah membelakangi
Tubuh yang hangat

Ibu tertidur malam ini
Seperti biasa, menahan nguap sebelum aku terlelap
Namun kali ini aku berpura
Berniat menjadi pihak yang terjaga
Dan melihat ibu menemui nikmatnya menyapa mimpi

Lama kupandang, sesuatu menghampiri benak
Nafasku tercekat
Bahu itu lusuh tak lagi tegak
Helai demi helai rambut kini tak sesegar dulu
Berguguran termakan usia
Aku tepekur, diam..
Entah sejak kapan tubuh itu mulai renta
Bahkan saat tak berdaya ia terlihat menua
image
Sumber

Ibu..
Sebari memandangmu mataku memanas
Air mata mengalir tanpa sanggup kutampik
Hanya mampu mengatur suara agar tak terisak
Jangan sampai kau terbangun lalu bertanya, "mengapa menangis?"
Karena mulutku terlalu kelu tuk berujar
Atas sederet kata yang ingin keluar

Mungkin cukup aku yang menyimpannya
Biar ia mengendap hingga menjadi adab
Agar nanti aku tak lagi membuatmu kecewa, kesal atau bahkan menangis

Namun
Dalam diam setidaknya biarkan rintik hujan yang mengingat
Atas segala waktu yang terbuang menyisakan sesal yang tersia

Hingga seuntai kata maaf adalah sihir
Berat dikatakan karena terlanjur menumpuk
Namun jua memekik dan membuatku senantiasa ingin menangis

Karena lebih memilih pergi
Ketika kehadiranku kau rindui
Tak sengaja suaraku meninggi
Padahal kau hanya ingin dimengerti
Demikianlah aku merintih menyesali
Sebagai anak terang aku tak tahu diri
image
Sumber

Ibu..
Maaf atas segalanya
Tak sanggup rasanya bila kujabarkan
Bahkan semesta jua mengutuk pada tiap khilaf yang kubuat
Kutahu tanpa meminta pun kau sudah faham
Seperti biasa
Lewat anggukan pemakluman kau dekap aku
Mengampuni dan memaklumi
Begitukah arti menjadi seorang ibu?

Masih dengan tangis izinkan aku mengenang, bu..
Pada tiap pengorbanan
Pada tiap perjuangan
Yang kau goreskan demi menjadikanku sebagai aku

Masih dengan pilu di pekat gelap
Biarkan aku meringkuk mengamini pada tiap doa dan harap yang kau semat
Walau tak pernah kau jadikan beban
Sebatas pengharapan
Karena kutahu bahagiaku adalah citamu
image
Sumber

Waktu terus bergulir dan ibu masih memejam diri
Mata yang tertutup itu tampak damai
Ingin rasanya kupeluk, seerat mungkin kupeluk
Walau mungkin ibu kan sadar lalu mengernyit heran

Lagi, aku berandai
Berharap denting jam tak lagi bunyi
Hari berlari namun kalender jangan berganti
Sehingga tak lagi ada kata pergi
Yang mengikuti
Yang menghantui

Tapi mau tetaplah mau
Takdir jelas tak bisa dipungkiri
Akhirnya, meski gontai kodrat memaksaku tuk siap
Kembali melihat ibu terlelap
Tanpa esok yang diharap

Dengan penuh keihklasan tanpa satupun penyesalan
Melepasmu pergi walau mata menjerit
Merelakan meski jantung ingin berhenti
Dan berusaha kuat sebari bebisik haru, "kutahu ibu lelah, kini saatnya beristirahat. Tidurlah bu"

Lhokseumawe, 22 Desember 2017
image

Sebuah puisi yang saya persembahkan untuk sesosok malaikat nyata bernama ibu. Terkhusus ibunda saya yang sudah merawat dan membesarkan saya selama 21 tahun hingga menjadi seperti saat ini.
Thanks mom😢
You always be my hero👑
Selamat hari ibu🌹

Salam hangat❤
putrianandass@putrianandass

Malam Bersama Ibu | Ecency