Kita, sebagai orang tua, tak tertutup kemungkinan melakukan hal-hal keliru terkait pendidikan anak. Bila keliru mendidik anak, tak tertutup kemungkinan, akan menanamkan hal yang kurang baik bagi anak. Misalnya, membuat sang anak cenderung berkarakter egois ataupun kurang mandiri. Lalu, bagaimana sebaiknya mendidik anak? Berikut 10 hal keliru dalam pendidikan anak.
Gambar 1. Apa Saja Hal-Hal Keliru dalam Pendidikan Anak?
Bagi orang tua, menyayangi anak memang hal yang wajar. Namun, bila menyayanginya terlalu berlebihan, sebenarnya kurang begitu baik bagi sang anak. Sebabnya, secara psikologis, akan menanamkan sikap egois di dalam jiwa anak. Ambil contoh, saat sang anak meminta mainan baru, meskipun kita tak memiliki banyak uang, kita terus membelikannya mainan agar membuatnya merasa senang. Bila terus membelikannya mainan, cenderung membuat sang anak mementingkan kemauan diri sendiri, tanpa memahami kondisi keuangan orang tuanya. Tak tertutup kemungkinan, sikap mementingkan kemauan diri sendiri akan terbawa saat usia dewasa.
Tak ada manusia yang sempurna. Termasuk juga bagi seorang anak. Dengan demikian, menghargai dan menerima kekurangan anak menjadi hal penting. Bila kita menghargai dan menerima kekurangan anak, secara psikologis, membuat anak lebih menghargai dirinya sendiri. Sebaliknya, bila kita terus mengungkit-ungkit kekurangan anak, akan membuat anak mudah merasa frustrasi. Dan juga, akan membuat sang anak merasa kurang percaya diri.
Seorang anak sebenarnya memiliki keinginannya sendiri. Sebagai orang tua, ada baiknya kita membantunya meraih keinginannya. Bukan ‘mendikte’ anak agar berhasil mewujudkan keinginan orang tuanya. Misalnya, sang anak senang menggambar dan bercita-cita menjadi seorang pelukis. Sebagai orang tua, kita dorong sang anak agar lebih senang melatih kemampuan menggambar.
Orang tua yang dekat dengan anak memang hal yang baik. Akan tetapi, untuk beberapa hal, dekat dengan anak sebenarnya kurang baik bagi perkembangan anak. Ambil contoh, anak kita senang menggambar. Bila kita merasa dekat dengannya, biasanya kita akan bertanya gambar apa yang sedang dibuat. Nah, tak tertutup kemungkinan, pertanyaan ini akan membuatnya merasa gugup saat menggambar. Bila membiarkannya berkreasi menggambar, akan lebih meningkatkan daya imajinasinya.
Apakah kita senang berkompetisi dengan para orang tua untuk menentukan anak siapa yang paling pintar? Nah, hal ini sebenarnya kurang begitu baik. Sebabnya, secara mendasar, setiap anak belum tentu memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak lainnya. Selain itu, berisiko membuat hubungan pertemanan anak menjadi renggang.
Masa kanak-kanak menjadi masa-masa indah baginya. Karenanya, anak-anak mesti menikmati masa-masa tersebut. Misalnya, tak terlalu mengekangnya untuk bermain. Nah, bila anak tak menikmati masa kanak-kanak, tak tertutup kemungkinan sifat kekanak-kanakan akan cenderung terbawa pada saat usia dewasa.
Seorang anak pun memiliki cita dan harapannya sendiri. Karenanya, terlalu ‘mendikte’ cita-cita anak sebenarnya hal yang keliru. Nah, daripada ‘mendikte’ cita-cita anak, alangkah baiknya kita membantu anak agar lebih mengenal dirinya sendiri agar memahami cita-cita dan harapan yang ingin diraihnya.
Sebenarnya, anak membutuhkan contoh kongkrit dari orang tuanya. Bila kita terlalu banyak menasehatinya tanpa menunjukkan contoh kongkrit, cenderung tak akan memberikan perubahan bagi sang anak. Ambil contoh, kita ingin anak kita memiliki sikap hemat. Bila kita menunjukkan sikap hemat, akan menanamkan sikap hemat di dalam jiwa sang anak. Secara psikologis, sang anak akan meniru karakteristik orang-orang di sekitarnya termasuk karakteristik kedua orang tuanya.
Sekali lagi, tak ada yang sempurna. Namun, kita dapat melakukan hal yang terbaik. Prinsip ini pun berlaku juga dalam pendidikan anak. Kita hanya dapat memberikan pendidikan yang terbaik, bukan mendidik anak secara sempurna. Nah, dengan demikian, bila merasa ada cara mendidik anak yang kurang tepat, tak ada salahnya lekas mengevaluasinya.
Pembangunan karakter anak pun menjadi hal penting dalam pendidikan anak. Karenanya, kita tak dapat mengesampingkannya. Misalnya, dengan menanamkan karakter disiplin, sang anak akan lebih menghargai waktu saat usia dewasa. Nah, setiap orang tua tentunya punya cara tersendiri untuk menanamkan karakter kepada anak. Misalnya, dengan bersikap tegas kepada anak akan membangun karakter pemberani.
Demikian, 10 hal keliru dalam pendidikan anak. Nah, apakah terdapat satu atau lebih hal tersebut yang biasanya kita lakukan kepada anak?
Oleh: Rahadian
([email protected])
Sumber Gambar:
Lihat juga: