Namaku Puan, aku tidak memiliki nama panjang seperti orang-orang yang di ujungnya memiliki nama keluarga. Aku dilahirkan di sebuah desa terpencil di Pidie dalam keluarga petani. Kakek-Nenekku petani, Ayah-Ibuku Petani, keluarga pekerja keras.
Dalam hari-hari belakangan ini aku kerap sekali mendengar kata-kata “Steemit” di warungkopi yang aku tak tau binatang tersebut atau mungkin nama si pulan. Aku adalah seorang bujang yang sejak dari kecil sangat senang duduk di warungkopi karena sejak kecil pula aku hidup dikelilingi warung kopi. Di desaku warungkopi tak hanya menjadi sebuah tempat nonggkrong atau tempat melepas dahaga, melainkan tempat-tempat orang menjadikannya sebagai ruang diskusi bahkan ada pula menjadikannya tempat berdebat kusir. Segelas kopi hanya tiga ribu rupiah di desaku.
Kemudahan berinternet membuat aku tergerak mencari tahu apa itu steemit. Dan tak lama setelah berselancar di ruang maya aku menjadi tahu apa itu steemit, rupa-rupanya adalah ladang orang-orang mencari uang dari buah karyanya.
Lantas aku langsung saja mendaftar akun Steemit untuk bisa menuangkan karya dan buah pikiranku di ruang maya ini. Dan pada lima belas Februari aku menerima sebuah email dari Steemit yang isinya bermaksud untuk memulainya steemit, aku menerima user dan pasword.
Dan salamku kepada kawan-kawan semua penghuni ruang maya ini yang sering kudengar nama itu, Steemian...
Warkop Sampena, Satu Maret 2018.
@puan