Angin Desember masih berbagi kisah sepasang kekasih yang belum bisa memastikan sejauh mana energi mesum sanggup menggerakkan perahu asmara mereka. Tahun baru kian menyempitkan berandanya walau sepasang kekasih itu, mati-matian membangun sarang untuk beranak-pinak diam-diam.
Puisi bukan obat pikun. Pada waktunya, orang akan berpaling darinya Setelah puas melupa. Kenangan dihimpun dalam berkapsul-kapsul daya ingat. Pada tepi tahun yang kian berat ke pengujung, seseorang yang pernah jadi penyair terpeleset kira-kira September 2014 yang licin. Tahun baru menyambutnya di Banda Aceh tanpa kembang api dan sepi yang menggigit.
Dalam tahun yang masih putik ini, sepasang kekasih yang berbagi serambi dengan sisa angin Desember, panik dengan gairah yang tak disangka-sangka mengempis. Puisi tak lagi membakar meskipun diksi-diksi erotis dibisikkan saban malam.
Malam di awal-awal 2015 tak lagi mampu menyuplai bara asmara. Silaki-laki kian kurus, pasangannya begitu juga.
Desember masih mendominasi Januari dengan gerimis nakal. Sepasang kekasih sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Tetap lanjut atau menepi