Mencintaimu bukanlah sebuah pilihan. Ketika tidak ada orang lain yang bisa kupilih untuk kucintai dengan segenap hatiku.
Mencintaimu juga bukan sebuah keterpaksaan. Ketika kau hadir terus-menerus memborbadirku dengan sejuta kasih sayang hingga aku tidak mampu bernafas.
Mencintaimu bukan sebuah kutukan. Ketika aku mulai terbiasa dengan hadirmu, dan aku bisa gelisah bila tidak mendengar kabarmu sama sekali.
Mencintaimu bukan hanya menjadi selingan. Ketika aku lelah menghadapi dunia yang menekan di sekelilingku.
Tapi tahukah kau?
Sesungguhnya, mencintaimu adalah sebuah kesempatan. Dimana aku bisa mengenal seseorang yang mampu aku sayangi sepenuh hati dan mampu menghujaniku dengan segala kasih sayang yang kau miliki. Kesempatan dimana aku bisa merasakan apa arti sebuah hubungan, cinta, dan kepercayaan.
Namun sayangnya, aku tidak pernah siap untuk satu hal
Cemburu
Aku selalu mempertanyakan, bagaimana semua ini berawal?
Bagaimana aku bisa mencintai sosokmu yang tidak ingin aku cintai?
Bagaimana aku bisa merindukanmu setengah mati?
Aku berpikir cukup keras untuk itu. Sampai-sampai aku menuliskan dengan detail awal pertemuan yang membingungkan ini.
Berawal dari sebuah chat di LINE, dengan intro menyebalkan dan mengindikasikan bahwa dirimu adalah sosok yang menyebalkan atau hanya sekedar menciptakan image sok asik untuk di ajak berkenalan. Nyatanya, aku tidak bisa berhenti meladeni percakapan konyol yang makin merajalela di antara kita. Aku tidak bisa berhenti tersenyum meski aku tahu lelucon yang kau lontarkan terdengar garing. Bahkan aku tidak berhenti menunggu balasan chat darimu di kala malam menjeratku makin dalam sebuah kenyamanan yang aku dapatkan dari orang asing sepertimu.
Jangan sampai jatuh cinta!! Diriku memperingatkanku dengan keras.
Dan itu terjawab, saat aku mengetahui statusnya sudah memiliki tunangan. Dari caramu menceritakan dirinya, aku tahu kau sangat mencintainya. Nada suaramu berubah ceria saat menyebut namanya, tawamu bergema mengingat pertemuan pertama kalian, dan canda tawamu tidak pernah habis menceritakan kecerebohannya.
Dalam hati aku bersyukur kala itu.
Aku punya alasan untuk tidak jatuh cinta kepadamu. Semenarik apapun kamu, aku masih bisa mencegah diriku sendiri.
Aku menikmati semua kisah kalian dalam percakapan kita.
Namun, aku tidak pernah menyadari.
Saat percakapan kita lambat laun beralih menjadi membicarakan perasaan kita sendiri.
Perasaan kita berdua.
Kala itu, perasaanku diselimuti oleh kabut. Sisi sentimentilku muncul bila malam menjelang. Biasanya aku selalu memandangi bulan yang bergantung rendah di langit jendela kamarku. Namun malam itu, perasaan sendu menggiringku untuk memasang status di whatsapp.
Tidak ada yang spesial. Hanya sebuah gambar rembulan cantik yang aku temukan di Pinterest dan aku selipkan caption selenophile yang artinya seseorang yang mencintai bulan.
Aku tidak tahu kenapa aku begitu terobsesi dengan bulan. Meski tidak memahaminya, aku seolah menemukan sosokku di dalam rembulan tersebut. Bersinar redup dengan bantuan cahaya matahari, dan ada raut sedih dalam cahayanya yang temaram.
Mengingatkanku akan rasa kesepian karena tidak bisa bertemu kekasihnya di sudut lain dunia.
Dalam hatiku bertanya, apakah kau merindukan matahari?
Pertanyaan bodohku tidak mendapat jawaban. Hanya sebuah anggukan bodoh dari pepohonan yang tertiup angin di malam itu.
Dan malam itu kau bertanya, “Apa arti dari Selenophile?”
“Kau cari tahu saja sendiri.” Ucapku acuh.
Dia tidak menjawab apa-apa. Kala itu aku artikan ia tidak peduli atau tidak ingin mencari tahu kata aneh berupa alien itu. Baginya mungkin hanya membuang waktu.
Aku pun tidak bertanya apakah ia sudah mengetahui artinya atau belum. Karena jujur aku memang tidak peduli.
Namun betapa kagetnya aku saat esok malamnya, dia mengirimkanku sebuah foto yang sangat cantik.
Hanya sebuah foto tapi mampu membuat jantungku berhenti untuk sesaat.
Sebuah foto yang mempertanyakan perasaanmu sebenarnya kepadaku.
Sebuah foto yang membuatku bertanya, apa artinya aku bagimu, Dewa?
Foto rembulan bulat sempurna yang tergantung di langit gelap pekat. Rembulan yang berdiri sendiri tanpa bintang di sisinya.
Foto itu telah merubah segalanya dalam hidupku.
Merubah keyakinanku untuk tidak pernah mencintaimu.
Merubah cara pandangku akan segala usahamu untuk membuatku tersenyum.
Lalu aku ingat-ingat kembali percakapan kita. Aku lupa, kapan terakhir kali kau berhenti membicarakan dirinya, dan hanya berusaha menghibur diriku.
Please, jangan katakan ini adalah cinta.
Karena aku dan kamu, tahu kemana arahnya akan membawa.
Seperti malam-malam sebelumnya, kita saling menyapa. Melontarkan gurauan, candaan dan ejekan yang sangat tidak biasa. Tapi aku tertawa, sekian lama aku bersikap dingin terhadap pria, namun denganmu aku tertawa.
Percakapan kita terbawa arus saat kau ingin mengetahui tipe laki-laki yang aku sukai. Dengan gamblang aku mengatakan, aku menyukai laki-laki berkulit hitam manis, pintar bernyanyi dan bermain gitar, lalu mampu mengimbangi diriku yang pendiam.
Sekali lagi, kau tidak merespon. Kau terdiam di seberang sana. Sejujurnya, aku ingin menanyakan hal yang sama kepadamu, tapi aku takut mendengar jawaban yang keluar dari bibirmu. Takut bahwa nama wanita itulah yang kau sebutkan dengan girangnya. Wanita yang telah kau cintai selama bertahun-tahun dan telah kau pinang dirinya dalam ikatan pertunangan.
Maka dari itu pertanyaan yang berani terlontar dari kebisuanku hanyalah...
“Apakah kau sudah makan?”
Rasa lelah mengiringi dengkuran halus nafasku. Aku tengah menanti chat yang belum kau balas dari sejak pagi. Kesibukanmu terkadang membuatku rindu akan percakapan intim kita yang berlalu.
Saat mataku hendak terpejam, aku langsung terkesiap saat mendengar denting halus dari aplikasi whatsapp. Namamu, Dewa, yang hampir memenuhi ruang obrolan di ponselku, laki-laki yang sudah mencuri sedikit Perhatianku dengan foto bulan cantik saat itu, laki-laki yang mengubah rasa sepiku menjadi penantian yang tidak menjemukan.
Tapi aku kaget, saat bukan sapaan yang muncul namun sebuah pesan suara.
Dahiku berkerut, rasanya aneh sekali.
Daripada aku penasaran, aku mengenakan headset dan memutar pesan suara yang lebih dari tiga menit tersebut.
Kau tahu?
Jantungku bergemuruh bagaikan ombak yang terbentur oleh lautan. Hatiku melambung bagaikan bola yang ditendang. Jiwaku menghangat bagaikan musim panas.
Itu suaramu
Itu nyanyianmu yang diiringi permainan gitar.
Kau tidak pernah tahu perasaanku saat itu, karena aku tidak memberi tahukan padamu. Aku tidak jujur padamu. Tapi air mata mengalir di sudut mataku. Aku tersentuh.
Aku tidak tahu entah lagu itu memang kau tujukan padaku atau bukan, tapi yang pasti usahamu untuk membuatku senang dengan nyanyian sederhanamu sungguh menakjubkan.
Kau, berhasil membuat rasa sukaku yang aku cegah di bawah himpitan ego dan harga diri menjadi sebuah rasa sayang yang tidak pernah aku harapkan akhirnya aku berikan padamu. Pada laki-laki yang tidak bisa aku miliki.
Kau tahu, sejak malam itu, jatungku bergemuruh, hatiku melambung, jiwaku menghangat, namun hatiku melemah.
Karena mencintaimu adalah sebuah pengorbanan, yang harus aku bayar dengan keikhlasan.
Keikhlasan untuk melepaskanmu suatu saat nanti.
Dan itu pasti akan terjadi
-selesai-