Sakapol jatuh cinta.
Peristiwa itu bermula saat banjir di bulan Desember. Kejutan-kejutan ringan yang penuh romantisme selalu menghampiri sang pujaan.
Sakapol memetik setangkai bunga yang tumbuh di pagar sekolah. Lalu mengatur pertemuan, dan menyerahkan setangkai bunga yang disertai kata-kata pujian.
Sakapol juga mengajak sang pujaan bersantai-santai ke suatu tempat yang dia sendiri belum pernah mengunjunginya. Sakapol mengikat diri untuk selalu setia, untuk selalu hidup bersama-sama dalam sunyi dan gaduh.
Sakapol memperlihatkan rusa sembari mengisahkan perjalanan hidupnya. Sakapol mengalami jatuh cinta yang nyata.
Enam bulan kemudian, Sakapol dan gadis pujaan berpisah saat musim kemarau. Keduanya takkan mungkin bersatu lagi, meski Sakapol selalu berharap agar banjir kembali menempatkan mereka di atas kendaraan apung yang terbuat dari batang pisang.
Di balik jeruji besi, Sakapol menulis puisi, Sakapol menulis cerpen, Sakapol menulis novel tentang banjir dan kemarau...