Matahari mulai terbenam. Di ufuk barat, langit berwarna keemasan. Sebentar lagi, azan akan berkumandang. Pertanda Magrib tiba. Sakapol beranjak pulang, meninggalkan kebunnya.
Berbicara tentang senja, Sakapol memiliki kenangan yang hampir manis bersama seorang gadis pujaan. Sakapol nyaris mencongkel senja tersebut sebagai simbol kesetiaan. Sakapol remaja, memiliki gaya romantis yang berkualitas. Ia suka berandai-andai di hadapan semburan kuning keemasan.
Ali merasa cemburu buta, ia tidak memiliki pujaan hati yang layak diajak menikmati matauroe lop (matahari terbenam). Biarpun begitu, Ali tetap memiliki semangat yang tinggi.
Keadaan Ali, di satu sisi akan menyelamatkan dirinya dari pengaruh sakit hati. Namun di sisi lain, tak ada seorang pun yang bertanya padanya "Sudah makan atau belum Bang Ali?"