Tatkala tidak ada lagi ide untuk menulis, maka ketiadaan ide itupun menjadi sebuah inspirasi dalam menulis, sehingga tak jarang banyak yang mengatakan bahwa seseorang masih dapat menulis meski sedang kosong ide. Lalu bagaimana ketika diri ini di hadapkan pada kondisi sedang krisis kosa-kata, atau tak ada topik yang bisa diangkat untuk menjadi sebuah tulisan?
Seorang teman yang baru mencalonkan diri sebagai calon legislatif dari sebuah partai, secara khusus meminta saya untuk menyusun sebuah kalimat singkat di spanduk yang bisa menggugah banyak orang agar masyarakat di wilayah konstituennya mau memilih dirinya. Saya langsung menggali-gali tabungan kosa-kata yang menarik, berpikir secara mendalam, dan mencari-cari kalimat yang cocok. Alhasil, tidak kutemukan kalimat menarik yang bisa kutawarkan untuk sang caleg. Tulisan singkat, untuk merangkum sebuah makna pada tujuan tertentu dalam satu kalimat, ternyata juga tergolong lebih rumit ketimbang menguraikannya secara panjang lebar. Tidak mengherankan, kita akan mendapati banyak spanduk yang bertebaran lebih banyak bertuliskan "Mohon dukungan dan doa restu".
Sampai detik ini aku masih baru sampai pada kesimpulan bahwa, tidak ada yang benar-benar sederhana ataupun mudah dalam hal tulis menulis. Karena nilai dari sebuah tulisan tidak melulu menyangkut tentang ide brillian, ide sederhana, dan atau seberapa banyak kosa-kata. Tapi ini juga menyangkut tentang kenapa kita harus menulis?. Aakh.. Ternyata aku masih belum naik kelas, masih saja menulis itu adalah sesuatu yang sangat rumit meski aku melakukannya tiap hari. Aku mesti berlatih dan terus berlatih, mungkin dengan begitu kerumitan itu akan semakin terasa ringan. Semoga...
Dan pada akhirnya, jadi juga satu postingan malam ini..hehe