Bilingual
STEEMIT, APLIKASI,DAN EMOSIONAL STEMIAN
Muklis Puna
Majunya teknologi informasi telah memberikan kemudahan dan kesempatan bagi masyarakat dalam menulis. Pada zaman baheula, ketika lembaran surat kabar masih keramat, para penulis hanya dapat dihitung dengan melipat jemari. Hanya orang -orang tertentu yang tulisannya aktual, menarik, dan punya kedekatan emosional dengan redaksi yang bisa dimuat. Hampir setiap hari di kolom opini dan budaya hanya nama nama itu terus yang bertengger di surat kabar, baik lokal maupun nasional.
Teknologi menyambar bagai killat, menyentuh semuah ranah kehidupan sosial. Media pengakses informasi begitu mudah dan murah untuk didapatkan. Bisnis telekomunikasi menggelayut dalam ruang -ruang publik seolah lepas kendali. Lewat berbagai aplikasi yang ditawarkan orang lebih instan dan mudah mengonsumsi dan memproduksi sebuah informasi.
Salah satu aplikasi yang sangat menjanjikan zaman now adalah STEEMIT. Aplikasi ini di samping memberikan kemudahan dalam berkarya juga menjanjikan rupiah dalam jumlah yang luar biasa yang diwujudkan dalam steem dolar dan SBD. Dalam aplikasi ini didominasi oleh ragam penulis di belahan dunia. Di awal kemunculannya aplikasi ini diragukan kehadiranya, akan tetapi seiring waktu melipat jarak media ini sangat digemari. Untuk masuk menjadi anggota steemian berlangsung sangat ketat dan sukar.Hal ini ditandai dengan pendaftaran yang begitu rumit dan menunggumu konfirmasi sampai satu minggu. Begitu dikonfirmasi diberikan pasword yang panjangnya hampir satu kilometer dengan kolaborasi antara angka, huruf kecil dan kapital....he..he
Mari kita tinggalkan aplikasi stemit yang begitu rumit dan cengeng, pembahasan dialihkan pada isi postingan yang berlaku dalam aplikasi tersebut. Ketika awal Maret 2018 penulis diterima sebagai anggota steemian betapa garangnya hati ini. Dengan reputasi pemula pada level 25 penulis menghayal puluhan juta akan mengalir dalam kocek setiap dua bulan sekali dari hasil barter SBD dengan rupiah. ha..ha . Hampir 40 lebih esai , artikel dan puisi penulis habiskan untuk tahap awal di steemit tanpa vote yang memuaskan.
Kecewa terus mendedah rasa. Janji -janji manis yang dihamburkan di meja kopi oleh para stemian ternyata hanya isapan jempol. Setelah dua bulan penulis bertahan dengan harapan ada matahari keluar dari kotak lima inci. Penulis baru menyadari rupanya emosional pelaku steemian sangat rentan terhadap reputasi yang dimiliki. Memang harus diakui kejujuran dan objektif dari aplikasi ini menjauhkan kita dari gerakan plagiarisme yang membudaya dalam literasi kita.
Emosional para stemian telah menjadikan ikatan yang membentuk kelas -kelas sosial dalam aplikasi. Penulis beranggapan bahwa kualitas tulisan lebih dominan muncul daripada reputasi yang dimiliki. Ternyata hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan. Para stemian yang memiliki reputasi tinggi lebih memilih melakukan vote sesamanya. Para stemian pemula seperti penulis kadang menghabiskan waktu sampai berjam -jam untuk menulis sebuah artikel karena reputasi masih berada di tingkat rendah hanya lima atau sepuluh orang yang melakukan vote itupun sesama reputasi rendah.
Jika ditinjau apakah yang punya reputasi tinggi postingan tulisanya sudah bagus? jawabnya tentu tidak semua benar. Pengalaman penulis di steemit ada banyak penulis nasional dan akademisi yang sudah punya reputasi bagus. Karena target yang dikejar adalh SBD. Mereka tidak meperhatikan para pemula yang tertatih di ujung lorong memulung SBD dengan harga Nol koma sekian....kasian
Banyak kisah yang dirasakan pemula dalam aplikasi ini sampai pada " tolong bantu Vote dong," padahal kualitas tulisannya sangat bagus. Mungkin dia telat sampai ke steemit dibandingkan yang punya reputasi tinggi. Kadang kadang miris menimpa para pemula, berusaha melakukan vote pada stemian yang lebih tinggi, bahkan tak jarang disertai komentar, following dan resteem. Sayang...! Para pakar stemian kita tak bergeming seperti karang dihempas badai.
Semoga melalui tulisan ini para pakar stemian lebih peka dalam memperhatikan tulisan -tulisan para pemula dan diberikan arahan bagaimana cara menulis dan mengundang kurator ke postingannya.. Bukankah itu bagian dari ibadah?
Demikian Muklis Puna
Sumber gambar dari google
https://www.google.co.id/search?q=gambar+steemit&client=ms-android-xiaomi&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiD1Ov5_vLaAhVEYo8KHZ3VB7wQ_AUIBygC&biw=360&bih=560#imgrc=iX67JnBx8jCxGM%3A
English
STEEMITE, APPLICATIONS, AND EMOTIONAL NETIZEN
Muklis Puna
The advent of information technology has provided the ease and the opportunity for the public in writing. In the old age, when the newspaper sheets are still sacred the writers can only be counted by folding the fingers. Only certain people whose writing is actual, interesting, and have emotional closeness with redactors that can his writings are loaded.Almost every day dikolom opinion and culture only the name of the name that continues bertenger in the local and national news.
Technology grabbed like a killat touch semuah social life. Media accessing information is so easy and cheap to get. Telecommunications business embracing in the public space space as if out of control. Over the various applications that people offer more instant and easy in consuming and producing an information.
One of the most promising applications of this era is STEEMIT.Aplikasi in addition to providing ease in the work also promised the rupiah dalm an extraordinary amount realized in dollar and SBD steam.In this application dominated okeh by various writers dibelahan dunia.Di early appearance of the application this is doubtful presence, but over time folding the distance of this media is very popular. To enter into a steemian member takes place very tight and difficult.It is marked by the registration is so complicated and when waiting for you confirmation up to one week.So confirmed given the password that the length is almost one kilometer with the collaboration between numbers, lowercase and capital .... he .. he
Let's leave the stemit application so complicated and whiny the discussion is diverted to the contents of the post that is applicable in the application tersebut.Ketika early March 2018 authors accepted as a steemian member of how fierce heart ini.Dengan beginner's reputation at level 25 authors fantasize tens of millions will flow in every pocket once in two months from the SBD barter proceeds with the rupiah .. ha..ha. Almost 40 more essays, articles and poetry writers spent the early stages in steemit without a satisfactory vote.
The promise of sweet promises scattered on the coffee table by the stemians was just a figment. After two months the writer persisted in the hope that there was a sun out of a five inch box. The new author realized that apparently the emotional actors of the steemian are very vulnerable to their reputation. It must be admitted that the honesty and objectivity of this application keeps us from the plagiarism movement that entrenched our literacy.
Emotions of the stemians have made the bond that shapes the social class in the application. The authors assume that writing quality is more dominant than its reputation. such as writers sometimes spend up to hours hours to write an article because the reputation is still at the low level only five or ten people who did vote and even fellow low reputation.
If the review has a good reputation post its writing is good? Answer is certainly not all correct.Experience writers in steemit there are many national authors of academic writers who already have a good reputation.Because the target pursued adalh SBD they do not pay attention to the beginners who trained at the end of the hall scavenge SBD with the price Zero coma so .... kasian
Many stories are perceived by beginners in this application to "please help Vote dong," whereas the quality of his writing is very good. Maybe he is late to steemit than a high reputation. Sometimes sad sometimes happen to beginners, trying to vote on more stemian high, often even accompanied by comments, following and resteem.Sayang ...! Our stemian experts do not move like a rock in the storm.
Hopefully through this paper the experts stemian more sensitive in paying attention to the writings of beginners and given directions how to write and invite the Curator to postingannya .. is not that part of worship?
Similarly Muklis Puna