CATATAN AKHIR SEBUAH EVENT
Muklis Puna
Selama dua minggu terakhir ini penulis disibukkan oleh kegiatan nasional yang dilakukan di setiap daerah kabupaten/kota pada tiga daerah di provinsi Aceh. Rutinitas tahunan yang berlangsung pada tingkat dasar dan menengah ini sering disingkat dengan FLS2N. Keterlibatan penulis seperti pisau bermata dua, kadang penulis bertindak sebagai hakim untuk memutuskan nasib peserta yang merupakan aset masa depan bangsa, satu sisi penulis sebagai pendamping peserta yang dipercayakan untuk melatih, membina dan mengarahkan peserta dalam bidang baca puisi, cipta puisi dan pembuatan film pendek.
Sumber gambar dokumen pribadi
Dengan peran ganda yang diembankan kepada penulis tentunya menguras adrenalin yang luar biasa. Pada saat penulis bertindak sebagai hakim dituntut keseriusan tingkat tinggi dalam menyelami setiap untaian kata yang dilantangkan oleh para peserta. Ketika penulis berhadapan dengan tumpukan mantra berkias yang menyembunyikan makna penulis dituntut untuk mengaktifkan mata bathin sesuai dengan kualifikasi yang penulis miliki.
Kegiatan mencipta dan menulis puisi merupakan kegiatan yang berbeda cara padang pada objek yang sama. Menurut literasi yang pernah penulis telusur dari berbagai sumber sastra mencipta puisi adalah olah kekata. Artinya para pencipta dituntut lebih peka dalam memahami setiap tema atau subtema yang diberikan oleh dewan hakim. Tema dan subtema ini merupakan juknis yang telah ditetapkan oleh Tim Nasional. Pengolahan kata menjadi bait bait indah yang begitu padat, indah dan bermakna dalam mengusung tema harus ditulis secara hati-hati. Setiap diksi yang yang mengandung kias diatur secara sistematis mengikuti rima,oo baik itu rima asonansi dan kosonanansi. Selain itu pencipta juga dituntut untuk menghidupkan segala imaji (citraan) pembaca terhadap puisi yang dicipta. Intinya mencipta puisi membutuhkan segala pengetahuan bathiah yang mampu menggelegarkan jiwa pembaca.
Sumber gambar dokumen pribadi
Kita tinggalkan cipta puisi dengan segala kerumitannya, mari kita buka tabir tentang teknik membaca dan menilai puisi, walaupun pada esai sebelumnya sudah penulis uraikan secara panjang lebar. Namun, pada bagian ini penulis hanya ingin mengulangkaji pada bagian penilaian saja. Naskah puisi sebelum dipentaskan di atas panggung, naskah tersebut masih digolongkan dalam ilmu olah kata dan rasa. Akan tetapi,saat puisi sudah dipentaskan maka ia akan berubah wujud dalam disiplin ilmu lain. Orang orang sering menyebutnya sebagai seni pentas atau pertujukan. Kajian ilmiah terhadap baca puisi berbeda dengan cipta puisi. Dalam pembacaan puisi interprestasi, intonasi, vokal dan artikulasi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Seadainya baca puisi dikolaborasikan dengan seni musik dan drama, maka kajiannya berbeda lagi.
Amatan penulis selama kegiatan berlangsung jarang didapatkan kesesuaian dengan aturan atau juknis yang telah ditetapkan. Banyak hal yang mempengaruhi kegiatan tersebut, sehingga kegiatan di daerah tidak efektif. Sering didapati panitia pelaksana sebagai ujung tombak dalam melaksanakan kegiatan ini abai terhadap masalah yang telah diuraikan. Masalah penempatan dewan hakim pada setiap bidang lomba sering tidak proporsional dan profesional dengan bidang yang dihakimi. Bahkan ada hakim yang menillai baca puisi padahal ia tidak mengetahui sedikitpun tentang puisi. Sadis...! Faktor emosional dan profesional panitia pelaksana telah menjadikan ini sebagai hal yang menghambat proses seleksi bibit -bibit sastra di tingkat daerah amburadul. Selain itu ada dewan hakim cipta puisi yang membawa pulang naskah puisi peserta untuk dinilai di rumahnya. Dalam hal ini independsi hakim diragukan oleh peserta dan pendamping. Secara teknis hasil cipta puisi harus dinilai dilokasi event oleh tiga orang dewan hakim, bukan dibawa pulang oleh satu orang.
Menanggapi hal di atas protes protes membusur bagai hujan bulan Desember membasahi ranah ranah sastra di daerah. Proses Teknikal Meeting yang tidak dihadiri oleh dewan hakim membuat amburadulnya kegiatan cipta dan baca puisi ini. Akhirnya penulis mengharapkan ke depan panitia dan dewan hakim yang ditunjuk lebih bijak dalam mengelola event ini pada tingkat daerah sehingga tidak lagi terjadi pembunuhan karakter peserta demi kepentingan sesaat. Demikian Muklis Puna