image source: tulisbaca.com
Saya jadi ingat seorang teman lama yg sempat bertemu sekitar tahun 2015, momen singkat itu kami habiskan di sebuah kedai kopi, meski telah lama tak berjumpa kami tetap akrab layaknya teman pada umumnya. Sedikit perbincangan soal masa-masa sekolah dan perkembangan karir teman-teman dulu.
Kemudian pembicaraan beralih soal blogging dimana si kawan rupanya tahu juga soal Google Adsense, saya pun tak menduga. Namun alih-alih bicara soal sulitnya diterima oleh Google, si kawan langsung mengakui jika menulis itu susah, dalam bahasa Aceh dia berkata "na kucoba-coba peget blog tapi hana kutupue tuleh".
Ini memang bukan masalah baru bagi orang-orang yg ingin terjun bebas ke dunia blogging, ya tentu saja dalam konteks menghasilkan recehan dollar. Di tengah perbincangan itu saya teringat seorang rekan yg sudah lebih dulu terjun dalam dunia tulis menulis di platform internet, blognya hampir memuat seribu posting yg ia akui tak semuanya menarik, karena ia menulis apa saja yg muncul dalam pikirannya.
Kalau di pikir ada benarnya juga, ide kalau semakin di pikirkan akan tetap menjadi ide tanpa ada tindakan lanjut, yaitu menulisnya dan membiarkan orang menikmati hasil.
Masih soal kawan pertama, setelah pembicaraan itu si kawan akhirnya membuat blog (blogspot.com), postingannya berupa artikel-artikel yg cukup sering berseliweran di internet dan tergolong menarik bagi pembaca lokal, dan beberapa minggu kemudian blognya berhenti beroperasi.
Sampai pada tahap ini saya menyadari ada sebuah dinding pembatas antara coba-coba, passion, dsb. Ada orang yg begitu ingin mencoba sesuatu namun berharap langsung sukses, hanya dengan sedikit penghalang seseorang kadang langsung berhenti. Maka tak heran dari sekian banyak "pejuang blog" tak semuanya bisa berhasil.