Saya takjub, Lam Li, mantan jurnalis Malaysia itu, bertahun-tahun menyusuri sendirian bukit-bukit Afghan, lembah, jalanan berdebu, padang-padang dan stepa Asia Tengah. Ia terhenyak ketika menemukan wanita Pashtun berbalut burqa, dan para wanita suku Pashtun itu justru merasa kasihan ketika mendengar cerita Lam Li tentang wanita-wanita Malaysia yang harus keluar rumah untuk bekerja di sawah, kebun atau kantor.
Ya, wanita-wanita suku Pashtun itu, yang dianggap patut untuk dikasihani oleh seluruh makhluk bumi karena terkungkung dalam burqa dan tertindas dalam ketidakberdayaan, nyatanya menertawakan kebebasan versi dunia lain.
Saya penasaran, bagaimana caranya para jomblowan, bujanghidin dan para lajang dapat menemukan bakal calon istrinya di sana, sebab apabila kedapatan menyebut nama anak gadis dari sebuah keluarga saja dapat berarti aib dan itu, pertanda celaka, bagaimana jika sampai menggodanya.
Tak ada kampus untuk mengail asmara, tak ada media sosial untuk ajang promo diri sebagaimana yang lazim berlaku di negeri-negeri beradab.
Zanana, rupanya di tempat itu kau akan menemukan kembali tulang rusukmu yang hilang, melalui mata ibumu, di sebuah pesta, dalam sebuah ruangan yang khusus diperuntukkan bagi perempuan, ibu akan memilih salah satu diantara ratusan gadis muda yang sudah tak ber-burqa itu untuk menjadi menantunya, yang pada tahap selanjutnya akan dita’arufkan (dalam waktu yang sesingkat-singkatnya) dengan puteranya yang masih jomblo. Begitulah cara pria di Kandahar mengakhiri masa lanjangnya.
Di Zanana, dalam sebuah pesta, yang mustahil ada laki-laki, gadis-gadis Kandahar, membuang burqa-nya, memakai sepatu hak tinggi, bermake up, menyerbakkan parfum mahal agar melalui hati ibumu, engkau terpaut. Begitulah.
Perang? Tak ada hal aneh, selain roket yang salah sasaran, ranjau menjuntai dan bom bunuh diri yang nyaris setiap hari. Namun, tak ada laki-laki yang berlama-lama jomblo, disini, perang tak mampu menghalangi laki-laki untuk menikah.
Nun di sini, di gampong kita, dulu gara-gara perang banyak yang memilih pergi merantau. Eh begitu pulang, gadis pujaan telah kawin dengan tentara. Saat razia, kena tempeleng pula sama itu tentara. Setelah konflik usai, patutlah Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh penuh sesak. Menurut data, Aceh menempati juara pertama dengan angka orang sakit jiwa tertinggi nasional.
Belum lagi deraan ketidakstabilan ekonomi, lapangan kerja yang nihil, para penguasa korup, dan kondisi itu sedemikian celaka ketika calon mertua menetapkan mahar yang begitu mahal. Pantaslah jika ada kawan yang mendeklarasikan diri sebagai jomblo peduli syariah. Pertama, menurutnya mahar yang sulit itu tidak sesuai dengan sabda Rasul. Kedua, menjadi jomblo itu berarti tidak pacaran. Tidak pacaran bermakna, telah menegakkan setengah syariat.
Faktanya ternyata, kawan ini tidak kunjung menikah meski telah cukup berumur rupanya karena ia masih belum bisa move on, dia ditikung, pacarnya dinikahi orang. Bersembunyilah ia dibalik topeng jomblo syari'ah, menutupi betapa ia begitu kebelet ingin menikah.
Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyath, dalam karyanya I’annah al-Thalibin, mengatakan, ajaran agama memerintahkan kepada pemeluknya agar ketika keinginan untuk menikah begitu menggelora padahal belum ada kesanggupan, maka diperintahkan untuk berpuasa (mengontrol nafsu), jika upaya itu tidak sanggup membendung, maka bersegeralah menikah, persoalan bagaimana menafkahi keluarga kelak, berusaha dan berserah dirilah kepada Allah, Dia maha penjamin rejeki.
Memang, bangkit dari kecewa, terutama kecewa karena cinta, seperti kata alm Meggi Z memang susah. Adalah Veer Pratap Singh, komandan skuadron angkatan udara India, karena persengkongkolan jahat calon tunangan pilihan orang tua pacarnya, ia dituduh sebagai mata-mata, lalu dipenjara puluhan tahun, dan apa yang dilakukan Veer adalah mengikhlaskan diri bila perlu sampai ajal menjemput dalam tahanan Lahore ketika mengetahui (mengira) Zaara, wanita Pakistan yang ia cintai rupanya telah menikahi laki-laki lain.
Atau Seif al-Din Mustafa, Profesor Kedokteran Hewan Mesir, yang mungkin telah putus kawat sarafnya, nekat membajak sebuah pesawat dan membelokkannya dari rute awal (Iskandaria-Kairo) ke Siprus, demi bertemu dan memulihkan rindu menahun dengan istri yang telah diceraikannya yang wanita Siprus. Sampai detik ini ia masih dililit kekecewaan mendalam. Dari semua kegilaan, selalu saja ada wanita dibaliknya.
Maka, tak perlulah dibuka lembaran sejarah, bagaimana sebenarnya wanita itu menjadi sosok yang paling menentukan dalam kesuksesan laki-laki atau malah menjadi sebab keterpurukan ke dalam jurang kegagalan dan kepedihan, seperti yang dilakukan Cleopatra terhadap Caesar atau Marie Louise yang dengan cintanya yang meruntuhkan kedigdyaan Napoleon.
Seringkali, laki-laki berubah menjadi prasasti kesendirian dan mengabadi dalam kejomblowan setelah pada suatu kali saja ia jatuh cinta, lalu cintanya dikandaskan pula.
Di Kandahar, wanita-wanita Pashtun itu, yang alis tebalnya bersambung, lentik bulu matanya, yang hidungnya seperti paruh rajawali, kulitnya putih keemasan dengan mata yang kebiru-biruan itu, menyambut dengan tangan terbuka setiap laki-laki yang datang, terutama yang baik hati, tentu saja tanpa tradisi atau adat yang memberatkan lainnya. Sebab, perang, telah membuat laki-laki disana semakin berkurang atau minimal hampir 20 persen laki-laki Afghanistan pincang kakinya akibat ranjau.
Menikah adalah ibadah, haram dan dosa jika dengan alasan apapun, menghambat atau mempersusahnya.