“Kakang masih seperti belasan tahun,” ucapnya tiba-tiba.
“Ah, masa?” aku coba tersenyum.
“Iya? Erni, Atik, Epi nggak percaya waktu Yanti bilang umur Kakang tiga puluhan,” mata yang kuyu itu berkerjapan.
“Kalau gitu Kakang mau umur dua puluh aja,” kataku mengajak bercanda, tetapi yang kurasakan sebaliknya. Jiwa ini begitu getir.
“Mana bisa!” suaranya serak.
“Kenapa?”
”Umur mana bisa ditarik. Kalau umur bisa ditarik, berarti orang nggak mati-mati.”
“Kalau gitu berarti Kakang duluan mati?”
Yanti diam sesaat, “Mautkan ditangan Tuhan.”
“Tetapi kenyataan hidup kan begitu?”
“Yanti nggak mau Kakang cepat mati.”
“Kenapa?”
“Karena Yanti cinta...”
Dadaku begitu sesak. Mengapa tiba-tiba gadis ini mengajakku membicarakan hal itu di tengah situasi seperti ini. Gadis itu tidak kelihatan ketakutan, bahkan sejak pagi tadi kami panik lari kian kemari. dia seperti hanya mengikuti arus saja. Atau mungkin ketengangannya sudah samapai ke puncak, sehingga dia tidak sanggup menanggungnya lagi?
Nyamuk berseleweran, membuat kulitku gatal-gatal. Aku mengibas-ngibaskan tangan ke tubuh dan wajah gadis itu, coba mengusir serangga penganggu. Perlarian ini cukup melelahkan kami. Lek Kijan dan istrinya kulihat duduk berdekatan, kedua tangan perempuan itu merengkuh lengan suaminya. dia menangis.
“Kakang juga sayang sama Yanti...” ucapku kemudian.[]