"..halo pak, niki mamas nangis.." sambung istriku.
"..mamas pripun.."
Terdengar suara memangis keras dari loudspeaker handphone, pertanda sedang tidak baik-baik saja.
Seketika itu aku langsung pamitan kepada temanku, dimana kita berdua sedang berdiskusi mengenai prospek dan rencana kedepan.
"..sorry brow, anakku nangis, tak tinggal dulu.."
"..iya, aku juga mau otw.."
Entah ada perdebatan apa antara si ibu dan mamas, yang jelas aku langsung tancap gas pulang ke rumah.
Benar adanya ketika di rumah, mamas masih menangis bahkan rumah di kunci dari dalam sehingga ibu dan adik tidak dapat masuk ke rumah.
"..hey mamas, niki bapak yuk jalan jalan ngabuburit.."
Aku ajak dia keliling ke lapangan desa Panembangan, melihat indahnya pemandangan sore hari.
Nampak dari kejauhan para atlet muda sedang berlatih sepakbola.
Tak lama setelah kita berdua sampai di lapangan, terdengar adzan maghrib, pertanda benar-benar sudah melewati waktu sendekala alias senja.
Setelah adzan maghrib selesai, aku mengajak pulang mamas.
"..yuk wangsul, mpun maghrib. bapak kedah sholat.."
"..ayukk.."
Terlihat senyum bahagia di raut wajah mamas. Pulang dengan gembira tanpa perlawanan.
Begitulah salah satu solusi ketika anak sedang rewel, mungkin ini bukan solusi yang terbaik. Setidaknya sedikit menghilangkan rasa penat rasa bosan seorang anak kecil.
Bagaimana dengan pembaca yang budiman? adakah melakukan yang sama atau ada jurus lain?
Mungkin bagi sebagian dari pembaca akan mengalihkan kesedihan anak dengan menawarkan jajan di warung, iya itu juga merupakan sebuah solusi, namun agak boros..hehe