General Köhler, commandant of Dutch troops, died from a shot by an Acehnese sniper during the first attack on Aceh. image source
Greetings, how are you steemit friends? Nice to meet kenbali with you and hopefully healthy always. Today I will try to remember what we have experienced several years ago, may be not important/usesless to you but enough to remember our beloved brothers and sisters.
I believe many of you do not know us, but okay we will introduce ourselves, we are Aceh, we are unyielding people, we are just afraid of God, we are people of peace love.
Long before a country was nowhere to be formed, We had already known Marcopolo, Vasco Da Gama and even ibn Batutthah as well as many other explorers they had spread how our country formed and civilized us to various parts of the world.
I do not want to continue the discussion now, because until now we believe we are still civilized people.
Prior to this day, we have been through difficult days, starting from the colonial period, Indonesian independence, and the turmoil in Aceh.
I live in a land of hope, almost every day I hear gunshots, roaring tanks and soldiers we do not know where it comes from who is arrogantly trampling on our land some decades ago I still too young and do not know why they are here.
A mother and wife find finding the corpse of her child or the husband of a victim of an armed conflict. image source
I can not lie to myself, when my neighbors are kidnapped, raped, killed. But I do not know who is that mean-hearted because until now I have not seen a justice for the victims, do not you question the legal issues to us, because we do not know who the law is? I just closed the problem because I knew there was something bigger behind it all.
Something big is a tsunami, just a few minutes has taken hundreds of thousands of lives it is not comparable to armed conflict in Aceh As I said before that this far terrible.
The day was December 24, 2004, the morning of the earth was shaken very violently and a few minutes later the tsunami arrived.
You know how we feel Well I'll tell you.
like a normal Sunday night, our family sat while telling us how we went through yesterday, starting with my sister, me, father and mother. we laughed, smiled, and supported each other, until finally praying to ourselves for tomorrow to be a better day than yesterday. It was 10:00 pm, it was time for us to rest, playing with my sister, I took her to the room, she told me not to be woken up tomorrow for the holidays, I just smiled.
Suddenly when I woke up, I thought the mother was an earthquake that woke me up, I was confused and started looking for people at home, why lonely? Maybe they're into the garden.
Hopefully they return safely.
A few minutes later the people shouting to save myself, it is not clear to hear what they shout just to see them pointing backwards.
Along with that I suddenly saw something that was never imagined like a very large wave with a height of about a dozen meters, crushing all that passes even I see many houses under it, what is this?
Immediately I ran to save myself to the highest place, I do not remember where I went and what I did. I do not remember that, because suddenly the world turns dark.
After a few minutes of this terrible event I realized that something had happened.
I rushed home to make sure that everything was okay but I did not find my home.
The first thing I have to do is find my family, I have to look for them.
Bodies of tsunami victims. image source
The first night in the shelter was the toughest night of my life, it was like this dream was not real because last night my family and I were together excitedly and I noticed there was a proud smile on Mother's face.
It's not real, I believe that my family is anxiously awaiting for me to return home.
Thank to all our friends from neighboring countries who have supported us to remain tough today.
A few days ahead on December 24th and in some other parts of the world celebrating a big daytogether with they family, but believe me, we are also celebrating here in prayer for them. Once again, thank you. We are Aceh
BAHASA
General Köhler, commandant of Dutch troops, died from a shot by an Acehnese sniper during the first attack on Aceh. image source
Salam, apa kabar teman steemit? Senang bertemu kembali dengan anda dan semoga sehat selalu. Hari ini saya akan mencoba mengingat kembali apa yang telah kami alami beberapa tahun yang lalu, mungkin tidak terlalu bermanfaat bagi anda tetapi cukup untuk mengingat saudara-saudara yang kami kasihi.
Saya percaya banyak dari Anda tidak mengenal kami, tapi baiklah kami akan memperkenalkan diri, kami adalah Aceh, kami adalah orang-orang yang pantang menyerah, kami adalah orang-orang hanya takut pada Tuhan, kami adalah orang-orang cinta damai.
Jauh sebelum sebuah negara antah berantah terbentuk, Kami telah lebih dahulu mengenal Marcopolo, Vasco Da Gama bahkan ibnu Batutthah serta banyak penjelajah lainnya mereka telah menyebarkan bagaimana negeri kami terbentuk dan beradabnya kami ke berbagai penjuru dunia.
Saya tidak ingin melanjutkan pembahasan tersebut sekarang, karena sampai saat ini kami percaya bahwa kami masih orang-orang yang beradab.
Sebelum hari ini, kami telah melewati hari-hari yang sulit, dimulai dari masa penjajahan, kemerdekaan Indonesia dan gejolak di Aceh.
Saya hidup di tanah yang penuh dengan harapan, dulu hampir setiap hari saya mendengar suara tembakan, tank-tank yang menderu dan serdadu-serdadu yang tidak kami ketahui dari mana asalnya yang dengan sombongnya menginjak-injak tanah kami, beberapa puluh tahun yang lalu saya masih terlalu muda dan tidak tahu Mengapa mereka di sini.
Saya tidak bisa membohongi diri saat tetangga-tetangga saya diculik, diperkosa, dibunuh. Tapi saya tidak tahu siapa yang berhati keji tersebut karena sampai saat ini saya belum melihat adanya sebuah keadilan bagi korban, janganlah kalian pertanyakan masalah hukum kepada kami, karena kami tidak tahu siapa hukum itu? saya tutup saja masalah itu karena saya tahu ada suatu hal yang lebih besar di balik itu semua.
Sesuatu yang besar itu adalah tsunami, hanya beberapa menit saja telah merenggut ratusan ribu jiwa, itu tidak sebanding dengan konflik bersenjata bertahun-tahun di Aceh dan seperti yang saya katakan tadi bahwa ini jauh Dahsyat.
Hari itu adalah tanggal 24 Desember 2004 pagi, bumi diguncang sangat dahsyat dan beberapa menit kemudian tsunami tiba.
Kalian tahu bagaimana perasaan kami? Baiklah akan saya ceritakan.
Seperti malam-malam Minggu sebelumnya kami sekeluarga duduk sambil bercerita bagaimana kami menjalani hari kemarin, dimulai dari adik, saya, ayah, dan ibu. kami tertawa, senyum, dan saling mendukung, sampai akhirnya berdoa pada diri kami sendiri agar besok menjadi hari yang lebih baik dari kemarin. Jam sudah menunjukkan jam 10.00 malam, sudah waktunya kami istirahat, sambil bermain-main dengan adik, saya mengantarkannya ke kamar ia berpesan agar besok jangan dibangunkan lebih awal karena libur, saya hanya tersenyum.
Tiba-tiba saat terbangun, saya pikir itu ibu ternyata gempa yang membangunkan saya, saya bingung dan mulai mencari kemana orang-orang di rumah, mengapa sepi? Mungkin mereka sedang ke kebun.
Semoga mereka kembali dengan selamat.
Beberapa menit kemudian orang-orang berteriak untuk menyelamatkan diri, saya tidak jelas mendengar apa yang mereka teriakan hanya melihat mereka menunjuk ke belakang.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba saya melihat sesuatu yang tidak pernah terbayangkan, seperti gelombang yang sangat besar dengan tinggi sekitar belasan meter, melumat semua yang dilaluinya bahkan saya melihat banyak rumah yang di bawahnya, ada apa ini?
Segera saya berlari menyelamatkan diri ke tempat yang tertinggi, saya tidak ingat kemana saya pergi dan apa yang saya lakukan. Saya tidak ingat itu, karena tiba-tiba dunia berubah menjadi gelap.
Setelah beberapa menit kejadian dahsyat tersebut saya pun sadar bahwa telah terjadi sesuatu.
Saya bergegas pulang untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja tetapi saya tidak menemukan rumah saya.
Hal pertama yang harus saya lakukan adalah menemukan keluarga saya, saya harus mencari mereka.
Malam pertama di tempat pengungsian adalah malam terberat dalam hidup saya, ini seperti mimpi ini tidak nyata karena tadi malam saya dan keluarga masih bersama, bersemangat dan saya melihat ada sebuah senyum bangga di wajah Ibu.
Ini tidak nyata saya percaya bahwa keluarga saya sedang gelisah menanti kepulangan saya di rumah.
Kami berterima kasih kepada seluruh teman-teman dari negara tetangga yang telah memberi dukungan kepada kami agar tetap tegar hingga hari ini.
Beberapa hari kedepan pada tanggal 24 Desember dan di beberapa belahan dunia lainnya sedang merayakan kebersamaan bersama keluarga, tetapi percayalah, bahwa kami juga merayakannya di sini dalam doa untuk mereka. Sekali lagi terima kasih. Kami Aceh
BEST REGARDS @kharrazi