Jika kamu selalu berteriak, hidup harus berjuang? Seberapa hebatnya hatimu mau berjuang untuk satu hati? Kenapa hatimu tak berpenghuni seorang saja? Apakah hatimu mampu kau belah? Apakah benar jika rasa mampu dipaksa? Lalu apa arti perjuangan itu ....
berapa hatimu, wahai diri?
Aku tidak menyukai pertanyaan, namun aku suka mencari jawaban. Jawaban atas diri, hati, ego dan keterbatasan diri. Jika kalian sudah memiliki penghuni hati? Ada berapa di sana? Mampukah hatimu memuat ribuan rasa manusia? Mungkin jawabnya adalah mampu. Namun akan ada 1 penghuni hati yang bertahta? Siapa?
Aku mencarinya. Mencari di antara tarian hujan dan nyanyian angin. Kutemukan. Bukan satu, namun beberapa.
di antara kabut pun aku mencari ....
Apakah kalian bisa memanggil rasa? Apakah kalian mampu mengusir rasa? Mungkin bisa. Tapi aku? Tidak mampu. Aku suka menjalani hidup seperti air dalam kali dangkal di tepi sawah, ia terus saja mengalir, tanpa peduli apa yang terjadi di depan sana. Ia juga tak peduli esok harinya. Karena yang terpenting adalah ia bermanfaat. Apa aku bermanfaat untuk orang lain? Belum tentu juga. Hidup kadang rumit oleh pikiran-pikiran kita sendiri.
Kembali pada hati.
Meski penghuni hatiku belum kembali. Aku sempat kehilangan beberapa kali, sempat melepaskan beberapa kali. Pernah juga terdampar pada tempat paling bawah di dunia. Yaitu putus asa. Namun aku ingat nasihat Bapak, beliau mengatakan, "Sekali kita tunduk pada dunia, syurga menjauh sejengkal darimu."
Lalu? Untuk apa aku terlalu fokus pada dunia, pada hati, cinta manusia, jodoh, rejeki, mati, hidup. Aku sudah tidak mau lagi pusing mikir itu semua. Bukan tentang putus asa, namun kalau aku mati satu menit kemudian? Siapa tahu. Bukankah kematian bisa datang kapan saja?
air tenang tanpa ribet mikir nasib, karena sekuat apa pun ia ingin pergi, takdir yang akan membawa ke tempat di mana ia harus tinggal, pun dengan hati
Aku sudah tidak mau tahu tentang hati. Hatimu. Hatiku. Terbelah, mendua, menyatu, menyendiri. Aku tak butuh semua itu. Bukan putus asa, namun biarkan aku percaya jika air yang tenang pun akan berakhir di laut juga. Semua karena waktu, takdir, dan alam yang berperan.
Karena kadang kita perlu waktu untuk diam. Mengamati. Lalu pergi. Dan hidup? Bukan tentang apa itu nikmat dunia, kadang hidup perlu ditertawakan juga.
Tetap tersenyum meskipun hati hancur terbelah-belah. Karena senyum adalah ibadah.