Aku pernah disulap menjadi layang-layang, dikagumi, digenggam erat lalu diterbangkan, pernah juga dijatuhkan beberapa kali entah sengaja atau tidak. Tubuhku membumbung tinggi, melawan arus angin yang menghantam tubuhku tanpa iba. Semakin tali senar itu diulurkan, semakin membawaku menjejak awan di angkasa, terombang ambing di antara tamparan sang bayu. Terombang ambing di antara banyak pilihan jalan di angkasa.
Tubuhku letih, belok kiri, belok kanan, memutar ke sana ke sini, semua aku lakukan, agar pemilikku senang. Terkadang aku lelah, ingin aku berteriak padanya agar aku diturunkan, tetapi dia tak mau mendengar jeritanku. Panas, hujan, siang dan malam menyatu bersama, menyerang tubuh kecilku yang mulai letih menerima kenyataan, jika aku sedang dipermainkan.
"Woey, brengsek, aku capek ...!" teriakku setiap hari.
Dia bisu, pura-pura tuli tak mendengar teriakanku. Dia tak tahu betapa aku menderita terombang ambing di atas awan. Tangisanku tak dihiraukan. Air mataku jatuh, turun ke bumi, menyatu dengan air alam. Namun si empuku tetap tak peduli itu.
"Lepaskan tali senarmu bodoh ...!" teriakku malam itu.
Dia masih tuli, sesekali kulirik dia mengamatiku dari kaki langit, memandang dan pergi. Entah apa yang dia rasa. Mungkin dia tak tahu jika tubuhku melemah, terik matahari dan guyuran hujan merobek kulit tubuh tipisku. Semakin aku bertahan semakin aku menderita dalam ketidak pastian.
"Hey, kamu mau aku mati, dan jatuh ke bumi?" tanyaku padanya.
Kali ini dia memandangku, tersenyum. Sepertinya dia tahu maksudku atau mungkin dia mulai gila. Aku sudah capek dengan kelakuannya, aku lelah menjadi layang-layang. Terombang ambing mengubur asa. Lemah tubuhku memikul beban hidupku.
Tapi aku siapa?
Aku hanya sebuah layang-layang, terikat tali senar yang membubung tinggi menembus awan. Aku kini pasrah, entah sampai kapan aku di atas sini. Aku cuma berharap. Tali senar itu rapuh dan putus. Agar aku bisa pergi jauh, mengikuti ke mana arah angin membawa tubuhku pergi. Entah jatuh di gunung, laut atau bahkan hutan belantara.
"Ya Tuhan, semoga tali senar di tubuhku cepat rapuh dan putus, aku ingin pergi, bebas tanpa dia yang mempermainkan aku," rintihku dalam hati.
Malam ini hujan deras, angin berembus kencang, menampar tubuhku beberapa kali, keseimbanganku tak menentu, tubuh tipisku gagal menahan sapuan hujan itu. Aku merasakan tubuhku ringan, bergerak bebas dan melesat di antara ribuan alam.
"Aku bebas ...!" teriakku sepanjang jalan.
"Selamat tinggal brengsek ...!!!" teriakku pada empuku.
Tubuhku ringan, mengikuti ke mana bayu menyeretku untuk jatuh. Dan benar, tubuhku jatuh, tersangkut di pohon cemara. Memang tidak terlalu tinggi, tapi aku betah di sini. Pohon yang menghijau, kadang kulihat beberapa burung terbang tepat di muka ku. Sesekali kulihat manusia melintas di jalan setapak di bawahku, mereka mendongak dan melihatku. Aku kadang malu, kadang tersipu.
"Kenapa manusia itu memandangku? Apa aku jelek? Atau sudah tuakah wajahku?" seribu pertanyaan menyerbu pikirku.
Aku sadar, sejak terlepas dari tali senar itu, aku ditampar hujan beberapa kali, membuat tubuh tipisku buram, dan warna di tubuhku memudar. Tak jarang juga ada anak manusia yang mau mengambilku, aku paham percakapan mereka. Mereka bilang kerangka ku bagus dan mereka akan mengganti tubuhku dengan warna lain. Aku tidak mau, aku tidak mau lagi menjadi layang-layang. Aku tidak mau terbang, terombang-ambing tanpa kepastian. Aku ingin hidup tenang, walaupun hanya sebatas kerangka usang di atas pohon cemara.
Kunikmati dunia baruku, penghuni pohon cemara, tak jarang juga kupu-kupu dan belalang bermain di sampingku, burung gereja pun seakan mau berteman denganku. Kini duniaku indah, sangat indah. Tidak terikat dengan tali senar yang mencekik perasaanku. Aku tetap di sini, menikmati hidupku sampai kerangka ku benar-benar rapuh, remuk dan aku mati bersama sang waktu.