Jika rindu mampu dimadu? Andai rasa mampu ditawar harga? Maukah kamu membeli sebotol rindu lalu kita teguk bersama? Agar pahitnya hidupku berubah menjadi madu-madu kerinduan.
Berbicara pada waktu. Pada dinding-dinding harapan yang telah keropos dimakan masa. Aku punya cerita.
Tentang perjalanan merpati.
Anggap saja merpati ada di antara photo ini
Jalan di mana dulu kata ibu hidup adalah perjalanan, bukan tempat tinggal. Namun, apakah perjalanan selalu membawa senyuman, Bu?
"Tidak." Itu kata ibu dulu.
Ketika rasa dan masa tak lagi memiliki jembatan dalam kehidupan? Apakah rasa mampu dipaksa? Apakah rindu mampu dimadu? Bolehkah cinta diganti dusta?
Ini tentang merpati, Bu. Merpati dalam sangkar yang pernah menerima janji, merpati yang melukis janji dalam dinding pengharapan. Apakah iya, waktu mampu merobohkan dinding-dinding yang kokoh itu?
Waktu itu, di mana aku masih mempunyai senyuman di balik wajah dinginku. Semua menjadi indah kala senja mulai tersenyum ramah. Di balik tirai berwarna biru aku melihat ada setitik asa dalam wajah senja yang merona. Ibu, ini Merpati berwarna kelabu, bukan putih suci seperti dongengmu. Aku, dan segenggam asa yang membiru, menerbangkan angan bersama dua titik rasa dalam sebuah jalan. Dan aku tetap kehilangan.
"Seperti sebuah lingkaran, yang di mana titik awal selalu akan berjumpa titik akhir." Katamu dulu.
Merpati membentuk arah lingkar, namun belum sampai pada titik di mana ia berdiri memulai. Berdiri melukis perjalanan. Atau terbang lari dari kenyataan. Nasihat-nasihat usang yang dulu aku biarkan mengambang dalam pendengaran? Kini mati-matian kucari pada tiap embusan napas kehidupan. Dongeng ibu ada benarnya. Lalu apakah benar waktu mampu memahami bahasa? Mampu mengerti tentang hati?
"Biarkan semua berjalan seperti takdirnya." Dulu engkau pun pernah bilang seperti ini.
Biarkan? Apakah aku juga harus membiarkan rasaku menggantung pada tiang tanpa penyangga? Pada dinding tanpa pondasi? Kalau rapuh dan aku terjatuh? Ibu, tolong aku.
Aku tak lagi mempunyai jawab atas harap yang kau mau. Aku kehilangan arah. Merpatimu pincang. Dan aku lah Merpatimu yang tak mampu terbang setinggi harapanmu padaku, Bu.
Taiwan, 24 Agustus 2018
@jassy