Allah memberi manusia kemampuan untuk berpikir, dengan pikirannya manusia menerima ilmu-ilmu pengetahuan dan berbagai macam keahlian. Pengetahuan boleh suatu persepsi terhadap esensi segala sesuatu, suatu bentuk persepsi bersahaja yang tidak disertai oleh hukum atau boleh merupakan appersepsi: yaitu hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu.
Kemampuan manusia untuk berpikir dapat mencoba mendapat informasi yang diinginkan dengan menggabungkan universal-universal satu sama lainnya. Akibatnya pikiran memperoleh suatu gambaran universal yang sesuai dengan detail-detail di luar. Gambaran yang terdapat di dalam otak itu pun berguna untuk mengetahui quidditas objek-objek individual itu. Atau boleh jadi kemampuan manusia untuk berpikir itu menghakimi satu hal dengan yang lainnya dan menggambarkan kesimpulan.
Maka, sesuatu hal lain pun tegak di dalam pikiran. Inilah appersepsi yang secara ultimasi kembali kepada persepsi sebab faedah pencapaian persepsi adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang hakekat-hakekat segala sesuatu yang menjadi tujuan akhir yang dicari oleh pengetahuan appersepsi.
Kemampuan manusia untuk berpikir dimulai prosesnya baik melalui cara yang benar ataupun melalui cara yang salah. Kemampuan berpikir pada manusia mengadakan seleksi dalam usahanya untuk memperoleh pengetahuan yang dicari dengan ketajaman, upaya manusia itu dapat dibedakan antara yang benar dan yang salah. Proses ini menjadi hukum logika.