Pasca damai Aceh, para keturunan raja-raja di Aceh menghimpun diri dalam khazanah raja-raja Aceh. Diketuai oleh Teuku Raja Zulkarnain dari Nagan Raya.
Untuk mewujudkan eksistensinya, Teuku Zulkarnain menerbitkan sebuah buku Biografi Raja Nagan para pewaris raja-raja di Aceh ini ingin merevitalisasi kembali pranata adat dan budaya peninggalan leluhur mereka.
Buku ini diterbitkan pada tahun 2015 oleh Bidang Pengembangan Pemeseuman Sejarah Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh. Menariknya, Teuku Zulkarnain sendiri menjabat sebagai kepala bidang di lembaga yang menerbitkan buku biografinya Raja Nagan tersebut.
Buku Biografi Raja Nagan sumber
Buku setebal 218 halaman ini memang menceritakan silsilah Raja-raja Nagan, yang Teuku Zulkarnain sendiri merupakan bagian dari silsilah tersebut, ia sendiri yang kini didapuk sebagai Raja Nagan.
Dalam kata pengantarnya di bagian awal buku tersebut Teuku Zulkarnain menjelaskan, penerbitan buku “Biografi Raja Nagan* merupakan bagian dari kesadaran merevitalisasi kembali sejarah masa lalu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masa kini. Penerbitan buku ini juga bertujuan untuk melestarikan warisan sejarah dan kekayaan khazanah sejarah raja-raja di Aceh.
Sementara itu Kepala Dinad Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang ketika buku ini diterbitkan dijabat oleh Reza Fahlevi menjelaskan, penerbitan buku Biografi Raja Nagan merupakan suatu tugas moral yang harus dilaksanakan, dengan harapan adanya kepedulian dan keseriusan dari berbagai pihak untuk penulisan-penulisan sejarah selanjutnya yang lebih lengkap.
Meski menulis tentang khazanah raja-raja Aceh, buku ini tidak membahasa isu-isu politik, serta tidak mengangkat fakta-fakta tentang konflik. Sebaliknya, buku ini hanya sebagai sebuah upaya dalam batas tertentu untuk meninjau kembali apa yang terlah terjadi pada masa lalu.
Bagian awal buku ini setelah kata pengantar menjelaskan tentang fase terbentuknya forum silaturrahmi pewaris raja-raja Aceh. Bagaimana para keturunan raja-raja di berbagai daerah di Aceh diajak untuk menghimpun diri dalam sebuah wadah yang kemudian dinami Khazanah Raja-Raja Aceh.
Pada bagian selanjutnya juga dijelaskan tentang bagaimana peran orang-orang dari Turki yang datang ke Aceh membantu militer dan pemerintahan, yang mereka kemudian menetap di Aceh dan menyebar ke beberapa daerah, salah satunya yang diungkap dalam buku ini adalah kisah Potereyet dan Turki Pijuet.
Bagian setelah itu berisi tentang sejarah lokal dan pendidikan karakter bangsa, beberapa persoalan menyangkut kajia sejarah lokal. Setelah itu berisi pernyataan-pernyataan Raja Nagan terhadap pelestarian berbagai khazanah dan situs sejarah di Aceh seperti monument tugu Rimba Raya yang perlu penanganan khusus.
Bagian akhir buku ini juga berisi tentang silsilah keturunan Teuku Dek Nyak Dhien serta kegiatan-kegiatan Raja Nagan Teuku Zulkarnain dalam menghadiri berbagai kegiatan adat dan budaya di Aceh.
Buku ini menarik untuk dibaca, karena sebelumnya belum pernah ada buku yang menulis tetang Raja Nagan, malah banyak orang yang tak mengetahuinya. Menariknya, lahirnya khazanah raja-raja Aceh ini, membuat para keturunan raja-raja di Aceh kembali terkumpul dalam sebuah wadah untuk merevitaliasasi kebali warisan leluhur mereka.