Taksi Online Rasa NKRI

Words
516
Reading
3 min
Listen
Play
9y

1. Luluk Enggar.jpg
Source. Luluk Enggar dan Tugu Perbatasan Merauke-Papua New Guinea

Pada suatu kesempatan setelah kegiatan di Bogor, saya akan pulang ke Aceh melalui Jakarta – Medan – Lhokseumawe. Dari kota Bogor saya harus melalui jalan darat menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta, bisa menggunakan Bus Damri atau taksi. Karena kondisi hujan sangat lebat dan khawatir macet maka saya memutuskan untuk menggunakan jasa taksi online (OL). Akhirnya saya memesan taksi OL melalui aplikasi di hp, namun gagal.

2.jpg
Source

Saya jadi agak khawatir mengingat waktu yang terus berjalan tanpa dapat saya perlambat apalagi dihentikan karena waktu keberangkatan pesawat yang kian dekat. Di tengah kecemasan yang terus meningkat karena taksi tidak kunjung saya dapatkan dan hujan deras yang terus turun dan menyebabkan jalanan bertambah macet karena air, tiba-tiba seorang Dara manis dengan senyum terkembang datang menghampiri saya yang sedang berbicara dengan satpam. Sang dara tersebut menanyakan apakah saya mau ke Bandara? Mungkin sayup-sayup dia dapat mendengar pembicaraan saya dengan satpam di luar hotel. “Ya saya mau bandara Soekarno Hatta” jawab saya. “Kalau begitu bareng kami, taksi bayar paruhan saja” katanya. “Ok” Jawab saya tanpa berpikir panjang. Pucuk dicinta ulampun tiba. Rupanya Dara tadi sedang memesan taksi OL bersama temannya di lobi hotel.

3.jpg
Source

Tidak lama kemudian taksi OL yang mereka pesan pun datang. Sang Dara yang menghampiri saya tadi mengambil posisi duduk di samping supir dan temannya yang memesan taksi duduk di belakang bersama saya. Taksi pun berjalan menuju Jakarta sambil menembus hujan lebat. Perjalanan menuju kami lakukan melalui jalan tol warung jambu menuju sentul dan Jakarta. Dalam perjalanan kami mulai berbasa basi, berkenalan satu sama lain.

5. tugu-nol-kilometer-kota-sabang.jpg
Source. Tugu nol kilometer Sabang

Dara yang memesan taksi, yang kemudian saya tahu bernama Sita, berasal dari Jawa Tengah dan saat ini tinggal di Jakarta. Sementara satu lagi, yang menawarkan taksi kepada saya bernama Lulu. Mereka berdua berasal dari Jawa yang saat ini ada kegiatan di Bogor.

Sita ternyata tidak ke bandara karena hanya menemani Lulu selama di Bogor dan dalam perjalanan di turun di Mall Sentul. Tinggallah kami betiga melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dalam perjalanan tersebut mulailah suasana menjadi lebih cair, kami saling memperkenalkan diri masing-masing secara lebih mendalam.

4 Luluk Enggar 2.jpg
Source

Ternyata Lulu adalah alumni IPB sama seperti saya. Bedanya dia alumnus Fakultas Pertanian (S1), sementara saya alumnus S3. Saya dan Lulu juga melakukan melakukan penelitian pada laboratorium yang sama, Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) dan diajar oleh dosen yang sama. Persamaan yang kebetulan dan tidak disangka-sangka menyebabkan kami jadi lebih akrab dan terbuka satu sama lain.

6. ipb.jpg
Source

Sebelum sampai di bandara, saya juga sempat menanyakan dia mau kemana? Ternyata dia adalah gadis Kediri Jawa Tengah yang bekerja di Merauke dan sekarang akan kembali ke Mereuke. Sementara saya berasal dan bekerja di Aceh dan akan kembali ke Aceh. Kemudian saya berpikir, ahhh taksi OL ini ibarat “pita putih” yang terdapat pada kaki burung Garuda yang bertuliskan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bermakna walau berbeda-beda namun tetap satu jua. Semboyan tersebut melambangkan kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia yang terdiri atas beraneka ras, budaya, bahasa daerah, agama, suku dan kepercayaan.

7. steemit indoensia.jpg

Akhirnya kami berpisah di bandara karena tujuan yang berbeda, saya ke Sabang dan Lulu ke Merauke.

ismadi logo steemit.png

Taksi Online Rasa NKRI | Ecency