empat puluh tahun, semenjak berumur dua tahun Saat cucu Tgk pulo ini dilempar keluar jendela dari dalam kereta api, saat itu kereta api di Medan mengalami kecelakaan dengan refleks cucu tengku pulo ini dilempar oleh mamanya keluar jendela yang secara tidak masuk akal di sambut oleh laki-laki india Bangladesh yang entah dari mana munculnya, setelah evakuasi kereta laki-laki india tersebut dengan sorbannya menyerahkan kembali cucu tengku pulo kepada ibunya yang juga selamat dari kecelakaan kereta api tersebut.
Hari terus berganti, masa kecil cucu tengku pulo yang pertama dan satu satunya laki-laki menjadi harapan dan tumpuan kakek dan ayah yang juga seorang tengku, di lingkungan dengan pengawalan ketat dari pasukan perang panglima Aceh, cucu tengku pulo tumbuh besar dengan ajaran Islam dan disiplin militer yang sangat tinggi, dengan fasilitas yang sangat baik namun cucu tengku pulo tidak terbiasa dengan kemanjaan dan kemewahan malah memilih bersikap biasa saja seprti rakyat biasa yang apa adanya tanpa mengandalkan kekuasaan dan Fasilatas seorang kakek sebagai panglima perang Aceh wilayah Timur.
Sang kakek yang seorang panglima setelah solat subuh dan stiap pagi menjeguk cucu dan sarapan bersama bahkan pernah disiang hari sang panglima disuguhi hidangan makan siang dengan menu istimewa walau hari biasa namun sang kakek tidak mnyentuh makanan, di tanyakn oleh ajudan dan istri kenapa tidak enak masakan atau hidangan karena tidak di sentuh, sang kakek malah bertanya cucu ku mana aku menuggunya makan disini,.
Bersambung