Kenangan, Perjalanan, Petualangan

Words
735
Reading
4 min
Listen
Play
9y

Saya lulusan sarjana ekonomi. Saya lahir 15 Januari tahun 1989. Saya bercampur suku Padang dan Aceh. Ayah, berasal dari padang, tapi ia lahir di Mereudu Pidie Jaya pada tahun 1945. Karena kakek saya seorang veteran pada zaman bung Karno dan ditugaskan ke Aceh sehingga keluarganya ikut pindah. Sedangkan ibu saya, ia lahir di Aceh timur, Ia asli suku Aceh dari keturunan Meurah. Saya anak kelima dari lima bersaudara dan memiliki satu saudara perempuan. Ketika itu, setelah magrib kami berkumpul di rumah. Kami masing-masing mebuka buku pelajaran. saya masih belajar membaca dan berhitung bersama ibu.

Ibu seorang guru di sekolah dasar, ibu berprofesi sebagai guru bahasa Inggris dan kesenian. Kebetulan saya bersekolah ditempat ibu mulai dari kelas satu. Ayah bekerja sebagai pegawai dikantor Statistik. Ia sedikit membuat saya jadi merasa takut dengannya. Jika saya malas belajar, senjata untuk meredam saya ialah orangnya, senjata untuk membimbing saya adalah tali pinggangnya. Disela-sela pekerjaannya ia hobi memancing. Ketika dirumah ia bersantai dengan memakai kain sarung dan singlet, tidur di kursi tamu. Hari itu usia saya tujuh tahun, ketika saya lihat rambutnya sudah banyak beruban. Ia meninggal pada tahun 2000.

Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi penulis. Namun ada dimana cerita penting dalam hidup saya yang akan saya bagikan. Disinilah saya mulai ingin bercerita pengalaman-pengalaman hidup dari keluarga, teman, tempat bekerja, organisasi, hingga kisah cinta yang pernah saya rasakan.

Ada tantangan rumit bagi saya, yaitu kepribadian saya sendiri. Banyak yang menilai kalau saya orang yang lambat untuk berpikir, jika saya berbicara atau berinteraksi tidak menyambung. Orang-orang selalu merasa salah paham dengan saya.

Ada momen penting yang tidak bisa saya lupakan. Momen itu bagi saya adalah sebuah prestasi dan kebanggaan untuk diri sendiri yang bisa saya kenang selama-lamanya saat remaja.

Waktu itu di kampus, saya menjadi manajer tim futsal dalam acara turnamen yang diadakan oleh pemerintah Aceh. Singkat, Tim saya memenangkan pertandingan hingga menuju final dan kembali bertanding untuk mendapatkan juara. Akhirnya tim ini keluar sebagai pemenang. Kami hebat! – dalam hati. Kami juara satu. Akhirnya, kami dapat memberikan rasa lesu kepada lawan.

Edwan Latio, ia jangkung. Salah satu pemain dari tim kami. Saat pertahanan belakang sedang lemah dan digubrak-abrik oleh lawan, ia dapat diandalkan. Ia bermain keras dan memiliki semangat untuk juara. Ia tidak memikirkan diri sendiri dalam permainan, ia memikirkan kerjasama untuk tim.

Rizky Maulizar, seorang kapten Black Horse – Nama tim kami. Ia memiliki teknik bermain yang luar biasa. Memandu pemain lain di lapangan. Lawan tidak mengira dan mengenalnya, bahwa ia salah satu pemain kami yang harus di jaga ketat ketika mengiring bola. Juga kepada Dedi, Indra, Donald Rukmana, dan Agus Satria yang juga berkontribusi besar untuk tim. Ini momen sangat penting bagi saya ketika menjadi manajer. Salam Black Horse.

Mengenai soal “puber” saat remaja, saya pernah merasakan jatuh cinta. Cerita tentang jatuh cinta pada saat di SMA. Cinta itu adalah cinta pertama. Disanalah pertama kali saya mengenal seorang gadis. Akan saya ceritakan dalam judul yang khusus di halaman berikutnya.

Saya hobi petualangan yang berbau alam. Hobi ini baru saya temukan ketika saya menjadi aktivis lingkungan dalam komunitas Fotografi dan Video untuk alam – Aceh Nature Community (ANC). Komunitas itu memiliki anggota yang peduli dengan satwa liar. Saya mengidolakan Chaiddeer Mahyuddin, seorang fotografer dan pembina di komunitas itu. Ia agen foto untuk berita luar negeri (AFP). Banyak foto history darinya yang sudah dipamerkan. Juga untuk Wahdi Azmi, dan Mahdi Ismail sebagai pendiri dan penasehat. Semua anggota yang telah bekerjasama seperti keluarga demi membangun komunitas ANC lebih dari 13 tahun. Tidak ada diantara kami saling membedakan satu sama lain. Kami saling merangkul dan belajar. Belajar untuk mengabadikan indahnya dunia melalui lensa. Mereka adalah orang-orang hebat yang beruntung saya kenal.

Roma Febrian, sahabat saya dari kecil. Kami tinggal di satu perumahan, bertetangga. Mulai dari sekolah dasar hingga menengah, kami satu kelas. kami selalu bersama, sudah seperti saudara sendiri. Ia adalah sahabat di lingkungan tempat tinggal juga diluar. Dulu saya SMP Negeri 1 Banda Aceh, masih ingat pada saat pulang, menunggu angkutan Labi-labi di depan gedung RRI. Ada Oja, Karina, Khalid, dan Kharisma, mereka adalah kawan kami saat pulang. Tradisi kami selalu membeli “siomay”.

Roma telah berkeluarga, dan baru saja mengubah statusnya tiga bulan yang lalu paa tahun 2014. Saya hadir dalam acara pernikahannya. saya bersalaman dan memeluknya sambil mengatakan “selamat” kepadanya. Cukup hangat saat itu, saya ikut bahagia karena cita-citanya tercapai.

Ada teman-teman yang lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Tapi saya tahu mereka menghargai saya dan mengenal saya sebagai seorang teman.Its's Me.jpgSaya.jpg

Kenangan, Perjalanan, Petualangan | Ecency