No tears and rose when the seaman die
Adalah sosok kelahiran Tanjung Karang, Lampung,,Beliau lahir pada tanggal 25 Agustus 1936...adalah seorang pelaut yang handal...dan juga seorang Kapten,,lulusan Akademi Ilmu Pelayaran(AIP) ,ia berhasil menyelesaikan pendidikan nya pada tahun 1959,dengan ijazah Mualim Pelayaran Besar III
Dan kemudian Mualim Pelayaran Besar II,pada tahun 1966 dan Mualim Pelayaran Besar I pada tahun 1971.
Memulai karirnya di Pelni sejak 23 September 1959,Kapten Abdul Rivai berpengalaman menahkodai kapal-kapal besar disepanjang karir nya..seperti KM Towuti,KM Bangawan,KM Tolandu,KM Imarito,KM Iweri,KM Selayar KM Batanghari dan KM Tampomas II.
Sebelum menjadi pelaut kapal komersial kapten Abdul Rivai merupakan anggota militer
Yang ikut berjuang pada Operasi Trikora,,dan bertugas di kapal KM Sangihe.dengan pangkat letnan.
Atas sumbangsih nya terhadap kemerdekaan pemerintah pun memberikan anugerah penghargaan Satya Lencana pada tahun 1967.
Kisah Heroik seorang Nahkoda KM Tampomas II.. kapten Abdul Rivai..
KM Tampomas II memulai pelayarannya pada bulan Mei 1980 dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju Sulawesi,,dan di Nahkodai oleh Kapten Abdul Rivai,,sebagai seorang perwira laut tugasnya sangatlah berat,ia harus memastikan keselamatan diri penumpang dan juga anak buahnya hal ini tergambar jelas disaat saat terakhir hidupnya.
Tampomas II yang ia awaki mendadak terbakar yang mengakibatkan ledakan hebat,,sehingga membuat lambung kapal menjadi pecah dan air laut pun masuk ke dalam ruang mesin. Dan akhirnya membuat kapal oleng dan miring pada sudut 45 derajat,badan tampomas II mulai tenggelam perlahan.
Sejak awal kapal terbakar kurang lebih 30 jam, kapten Abdul Rivai dengan tenang membagikan pelampung bagi penumpang yang takut terjun kelaut.sperti yang tertulis dalam buku Neraka Di Laut Jawa : Tampomas II,, karya Bondan Winarno " sebaiknya kita turun kep," kata seorang awak kapal yang berada didekat nya,," Buat apa kita turun kalau semua penumpang belum selamat?" Sahut sang kapten.
Hingga detik-detik akhir menjelang tenggelam,
Sang kapten Abdul Rivai masih menolong beberapa penumpang wanita dan ia melambaikan tangannya dan masuk kembali ke dalam kapal..pada tanggal 26 Januari 1981,,Tampomas II yang terbakar hebat itu, akhirnya tenggelam diperairan Masalembo, bersama sang Nahkoda Kapten Abdul Rivai.
Pencarian jasad yang tenggelam dibantu oleh KM Sonne yang berbendera Jerman Barat,jasad kapten Abdul Rivai sudah tak dikenali lagi,,sempat dimakamkan massal dengan korban Tampomas II yang lainnya di Sulawesi,,tapi beruntung sang Nahkoda KM Sonne, mengungkap keberadaan jasad kapten Abdul Rivai,. identitas nya terkuak berkat tanda cincin bertuliskan " Hasanah" yang merupakan nama istrinya.
Ciri-ciri fisik berupa jari telunjuk tangan yang memiliki kelainan,bentuk badan,dan rambut dicukur pendek..akhirnya Jenazah pun diterbangkan ke Jakarta pada hari Minggu, tanggal 1 Februari 1981,dengan pesawat F-27 milik AURI..pada Senin siang mendiang kapten Abdul Rivai dimakamkan di taman makam pahlawan kalibata.dengan upacara militer.diiringi tembakan salvo oleh 20 orang prajurit TNI AL.
Sosok kapten Abdul Rivai yang tabah dan setia hingga akhir hidupnya,menjadi cerminan utuh, tentang bagaimana layaknya seorang pemimpin bersikap ksatria dan rela berkorban bagi orang lain.
Tidak ada air mata dan mawar ketika pelaut mati