Aku bukan diriku lagi!

Words
216
Reading
1 min
Listen
Play
9y

DSC_2873.JPG

Katanya manusia berubah, bukan saja secara fisik namun juga kejiwaan. Menjadi lebih dewasa atau pada titik ekstrim menjadi ‘tak lagi seperti yang dulu’. Aku mengalaminya.

Tadinya aku memandang diriku sendiri sebagai sosok introvert dengan prinsip ‘gue nggak nyusahin elu, jadi elu minggir jangan nyusahin gue!’ Aku akan menghindari konflik sekecil apapun di lingkungan tempat aku bergaul. Lebih memilih mengurung diri dengan naskah, menciptakan karakter fiksi dibanding ber-haha-hihi dengan tetangga.

Sampai, mau tidak mau aku harus masuk dalam komunitas kecil yang mau tidak mau ‘kenyamanan’nya menjadi bagian dari tanggung jawabku. Aish! Eggak gitu juga sih sebenarnya.Tapi, yah gitulah aku jadi pengurus inti organisasi kewanitaan di Kedutaan Indonesia di Luar Negeri.

Hal-hal sederhana seperti reservasi tempat pertemuaan, menyiapkan bingkisan bagi anggota, mengatur jadwal kunjungan sosial, membuat dan menyebarkan undangan kegiatan rutin sampai proposal kegiatan bazar dan penulisan laporan ke kantor pusat menjadi tugasku. Aku tak bisa menghindar, karena tak banyak WNI di sana, dan sebagai pendamping korps diplomatik aku harus ambil peran. Peran remeh di mata sebagian orang, namun menyita waktu dan konsentrasi.

Jadi hush dulu naskah-naskah fiksi!

IMG_2332.JPG

Dan lalu, aku menemukan keasikan dalam rutinitas ini. Ngurusin orang juga ada kenikmatannya. Ber-haha-hihi dengan orang baru, membuka pertemanan yang lebih luas itu menyenangkan.

Terus menulis fiksinya bagaimana? Ya tetap dong! Bahkan aku jadi punya banyak karakter untuk ku-fiksi-kan buahahaha!

Aku bukan diriku lagi! | Ecency