Agama vs sains

Words
491
Reading
3 min
Listen
Play
9y

Penggunaan kata “versus” di sini hanyalah sekadar mencari kemu-
dahan pemilihan kata. Maka tidak dikehendaki penafsiran langsung
atas arti pertentangan. Kepercayaan tak selalu bertentangan dengan
ilmu pengetahuan, begitulah klaim dari banyak sekali tokoh
agama, dan hal ini didukung oleh banyak sekali bukti. Mungkin
kepercayaan berbeda dengan ilmu pengetahuan dalam memandang
suatu masalah, tidak bertentangan atau antagonis. Dalam keadaan
demikian, dapat diharapkan, suatu saat, antara keduanya akan
terjadi pertemuan dan persesuaian.
Tetapi tidak dapat disangkal bahwa sejarah umat manusia, antara
lain, memuat bukti-bukti bahwa hubungan antara kepercayaan,
atau agama, dan ilmu pengetahuan, tidak selalu harmonis. Anta-
gonisme antara keduanya, sebagaimana diwakili oleh masingmasing pendukungnya, sempat memengaruhi kehidupan orang
banyak dalam jangka waktu yang cukup lama.
Mula-mula tampaknya pertentangan itu mengenai semua
cabang ilmu pengetahuan: alam maupun sosial. Tetapi saat ini,
rasanya sudah amat jarang terdengar bahwa agama atau kepercayaan
menentang suatu perkembangan ilmu pengetahuan alam. Walaupun
begitu, penentangan oleh agama atau kepercayaan terhadap per-
kem bangan ilmu sosial masih dirasakan sebagai sesuatu yang
ber langsung. Kiranya hal itu tidak perlu mengherankan. Sebab,
pertentangan atau perbedaan itu berakar dalam pertentangan dan
perbedaan antara etika-etika masing-masing: agama dan keper ca-
yaan menuntut adanya sikap menerima dengan teguh, tanpa ragu
dan kepastian, tentang hasil kesudahan; sedangkan ilmu justru
dilandaskan kepada skeptisisme dan sikap ti
Mungkin hal tersebut dapat ikut menjelaskan, mengapa sampai
saat ini penelitian tentang agama masih mengalami jalan yang seret,
bahkan tidak jarang terdengar suara-suara yang agak sumbang atau
tidak setuju.
image
Jalan Keluar?
Kita biasa mengatakan bahwa persoalan agama adalah peka. Tetapi
lebih daripada peka, penelitian agama adalah rumit. Kerumitan
itu antara lain dicoba dijelaskan sepintas lalu tadi. Maka dari itu,
mengemukakan jalan keluar dalam hal yang peka lagi rumit ini,
akan selalu merupakan percobaan yang bersifat sementara, dengan
kesediaan menerima hasil yang kurang memuaskan. Jadi, dengan
sendirinya jalan keluar yang hendak dikeluarkan di sini sangat
bersifat sementara, dan coba-coba (tentative) sifatnya.
Mengingat adanya potensi persaingan antara agama dan ilmu
sosial yang akan menjadi alat untuk meneliti agama itu, maka
jalan keluar yang segera terbayang dalam pikiran ialah bagaimana
menemukan jalan tengah antara atau gabungan dari keduanyaDalam kenyataannya, hal itu berarti pertaruhan dalam pribadi-
pribadi para peneliti agama.
image
Mungkin pribadi-pribadi itu ialah
tenaga-tenaga yang, karena berbagai hal, mempunyai kemungkinan
lebih baik daripada yang lainnya dalam memahami segi-segi ke-
imanan suatu agama, sebagaimana dipeluk masyarakat, tetapi
sekaligus juga memiliki keterampilan meneliti, dalam arti sanggup
melihat dan menilai kenyataan-kenyataan, tanpa perlu memiliki
kepentingan atau “interest” di dalamnya.
image
Betapapun sulitnya menemukan tenaga serupa itu, kiranya
bukanlah suatu hal yang mustahil.
Malahan barangkali pihak-pihak yang berwenang, yakin lem-
baga-lembaga ilmiah, dapat dengan sengaja menciptakan tenaga-
tenaga serupa itu, misalnya melalui latihan-latihan teratur. Sebab,
pilihan lain akan barangkali mengecewakan: penelitian agama
oleh seorang agamawan saja, hanya akan menghasilkan “teologi”,
se dangkan pekerjaan itu, oleh ilmuwan saja, mungkin akan terbatas
hanya kepada kenyataan-kenyataan “yang bisa diukur”. Lebih-lebih
jika telah disepakati bahwa “makna” adalah suatu kenyataan dalam
hidup manusia, maka jenis penelitian “luaran” seperti itu, tentu
akan sangat kekurangan kegunaan.

image

Agama vs sains | Ecency