Catatan #1: Malam Seperempat Buta

Words
232
Reading
2 min
Listen
Play
9y

pexels-photo-176851.jpeg
Source: pexels

Malam seperempat buta. Tinggal gemintang dan risau bulan yang bercahaya. Jangkrik berderik, anjing menyalak, selebihnya adalah angin. Mengalir, menyemilir, membawa malam lingsir ke gelap sempurna. Dahan pohon angsana bernyanyi, memadukan suaranya dengan dengung motor di jalanan.

Malam hendak hitam menyala. Awan mendung berarak dari utara membumbung, akan menyelubung bintang dan bulan yang masih seperdelapan purnama. Hawa dingin dari tenggara sedang bersegera, sementara bulir embun telah mengembun di rerumputan, di atap rumah, juga di anak rambut sepasang kekasih dalam ritual persetubuhan malam pertama.

Yang menggigil adalah ia yang terpaksa tidur di stasiun sebab ketinggalan kereta, sementara seorang gelandangan tua yang tak tahu beratap di mana menyelamatkan diri dalam balutan koran bekas ketika hendak membaringkan tubuhnya di etalase sebuah toko. Malam tak pernah punya urusan dengan ketimpangan sosial sebuah kota karena itu bukanlah urusannya.

Hawa dingin merambat. Menyatu dengan malam yang kian pekat. Menyatu rapat, seolah-olah tak bersekat. Ini hawa dingin ganjil, sebut ketua regu jaga di sebuah pos ronda. Ini hawa dingin sihir, yang menusuk ke sebalik belulang tubuh manusia, timpal seorang anggota jaga. Tapi malam tak peduli. Lebih tepatnya tak sempat peduli karena perkara-perkara bagaimana mengudap segala unsur cahaya agar gelap benar-benar utuh sebelum datangnya subuh adalah kewajiban hariannya yang tak boleh terlewatkan barang sekali abai sekali.

Malam dua perempat buta, sementara subuh tampak samar di depan mata, menyimak segala gerak gerik yang ada. Dan ya. Malam menggigil begitu hebatnya

Catatan #1: Malam Seperempat Buta | Ecency