Hari itu, siang. Langit terlihat biru dengan awan putih tipis menyepuhnya. Aku dengan sepeda motor milik bapakku, dari pagi sudah keluar rumah berputar tak ada tujuan. Dari rumah, aku mengikuti jalan lurus hingga sampai ke simpang empat yang terpotong dengan jalan raya, penghubung kota Banda Aceh-Medan. Seberang jalan raya itu arah masuk sebuah kampung yang berujung ke pegunungan.
Aku menyebrang ke sana. Di sebelah kanan jalan, sebuah sungai berbatu yang airnya mengalir begitu segar. Tiba-tiba keretaku dilewati beberapa kendaraan lain, yang rata-rata menyangkut bendera bulan bintang.
Rombongan kendaraan paling depan memberikan klakson dan mengucapkan salam padaku. Aku membalas. Lantas muncul keinginan untuk ikut bersama mereka. Kira-kira satu kilo perjalanan ada sebuah jalan kecil yang tak beraspal sebelah kiri. Mereka belok, aku juga. Terus lurus menaiki tanjakan. Lalu turun dan belok kanan. Disitu kulihat beberapa tiang bambu terpancang berbaris di sisian jalan. Ujungnya berkibar bulan bintang. Aku suka melihatnya. Seakan burung berwarna merah yang gagah mengepak-ngepakkan sayap. Hari itu bertepatan dengan 4 Desember, ketika umur perdamaian antara RI dengan GAM masih belia.
Teungku Hasan Tiro Ka geuwoe bak tuhan
Ingat hai rakan yang peugoe bangsa
Geu peutrang sikap ngen pernyataan
Aceh Nyoe tuan bek gop peucuca
Ureung Aceh nanggroe Islam
Jroh kebudayaan peurangui mulia
Bak thon Tujoh Nam awal mulaan
Lam gunong Tuhan Halimon nama
Jinoe ureung nyan ka geuwoe bak tuhan
Oeh lheuh berjuang pugoe syedara
Beuluwah kubu Akhirul Kalam
Mudah-mudahan Aneuk cucoe Han lupa.
Syair by Fuadi S Keulayu